Submitted by ground on

Markus 16:15-20…..Sewaktu murid-murid Yesus pergi dan memberitakan Injil kemanapun, Tuhan bekerja melalui mereka dan meneguhkan bahwa pemberitaan mereka adalah benar dengan tanda-tanda (mujizat, tanda, bukti, atau keajaiban) yang mengikutinya (berita itu divalidasikan). Yesus sendirilah yang mengatakan bahwa tanda-tanda akan menyertai orang-orang percaya. Inilah salah satu janji Tuhan sendiri yang dapat “menimbulkan iman kepada orang yang mendengarNya (Roma 10:17)”.

Benar, IMAN adalah syarat utama untuk mengalami janji Tuhan ini, yaitu janji bahwa tanda akan menyertai orang percaya yang pergi memberitakan Injil dan meneguhkan berita itu sendiri. Bahkan IMAN adalah hal yang membuat kita dapat mengalami sendiri mujizat (tanda) yang Tuhan bisa kerjakan melalui ataupun untuk kita sendiri. PERCAYA bisa dikatakan percaya yang sejati karena ada iman di dalam percaya itu.

Begitu banyak bukti berlimpah di alkitab, bahwa tanda (baik mujizat, tanda dan keajaiban) terjadi karena iman, baik iman orang itu sendiri ataupun bahkan iman orang lain untuk sesamanya. Tentu saja kita tahu dari kitab Ibrani (Ibr.6:12) yg mengatakan bahwa oleh iman dan kesabaran kita memperoleh apa yang dijanjikan. Namun di tulisan ini dititikberatkan kepada soal iman sebagai hal utama untuk terjadinya tanda-tanda dan mujizat.

Ketika kita membuka alkitab dan membaca mengenai kesembuhan, kelepasan dari roh jahat, kebangkitan orang yang telah mati dan bahkan tanda dan keajaiban alam yang terjadi maka kita bisa melihat jelas bahwa iman adalah sesuatu yang MEMBUKA semua itu bisa terjadi di alam jasmani ini, dalam arti lain tampak seperti sebuah proses yang dipercepat secara supernatural ataupun seperti melawan hokum-hukum alam ini. Iman menjadi tampak seperti MENARIK apa yang disediakan Tuhan di surga dalam kuasa-Nya untuk dinyatakan di alam jasmani ini. Dan tentu saja TIDAK ADA tanda atau mujizat yang terjadi tanpa iman sama sekali.

Bila ada pekerjaan yang tidak berhasil, maka itu dikarenakan “kurang iman” atau ketidak-percayaan, contoh hal ini terjadi pada waktu murid-murid Yesus yang gagal mengusir roh jahat pada seorang anak laki-laki (Matius 17:14-21). Bahkan Yesus sendiri menunjukkan juga ada hal yang dibutuhkan selain iman dalam hal mengusir roh jahat tadi yaitu tindakan iman lainnya! Itu adalah berdoa dan berpuasa!

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Mengenai iman pun Yesus mengatakan ada iman yang besar maupun iman yang kecil (Mat.8:10; 17:20; Lukas 7:9). (* Updated, 29.4.2009)

Nah, sekarang bagaimana dengan kita sendiri di zaman sekarang ini? Masih adakah tanda-tanda itu? Berdasarkan apa yang Yesus katakan sebelum Dia naik ke surga, YA masih ada dan berlangsung!

Apakah semua orang percaya dapat memberitakan Injil dan mempercayai tanda-tanda di Markus 16 itu untuk terjadi? Ya, semua orang percaya dapat. Ini bukan soal karunia Roh ataupun posisi seseorang, bukan soal pendidikan ataupun soal mentaati hukum taurat dengan hebatnya, bukan soal seberapa merasa salehnya anda ataupun merasa buruknya diri anda, melainkan soal IMAN.

Bagaimana bila tidak terjadi pada diri kita sewaktu memberitakan firman/Injil Kerajaan? Seharusnya kita datang kepada Bapa untuk “meminta, mencari dan mengetuk”, mengapa kita harus hidup kurang dari apa yang Tuhan sudah sediakan?!

Bagaimana bila seseorang sakit dan setelah didoakan (oleh pemberita/pengkhotbah sekalipun) dan tidak sembuh saat itu juga? Ini dapat terjadi karena ketidakpercayaan….atau….hal itu memerlukan “waktu” (bahkan Yesus harus “dua kali” bertindak terhadap seorang buta di Markus 8:22-25) dan juga tindakan iman yang lain (berdoa dan berpuasa, Mat.17:21).

Iman siapakah yang dibutuhkan untuk mengalami terobosan mujizat pada seseorang itu dalam hal kesembuhan atau yang lainnya? Iman orang itu sendiri. Dan…dapat juga iman teman-temannya (cnth: Luk.5:20, Mark.8:22-25) ….bahkan iman si pendoa (pengkhotbah/pemberita) itu sendiri!

Mengapakah orang sakit yang tidak sembuh lalu dituduhkan bahwa mereka kurang iman lagi (atau punya dosa tersembunyi atau belum lahir baru dan bla…bla…bla) ? Inilah “sampah-sampah” tuduhan yang kerap digunakan bila tidak berhasil. Kita haruslah jujur bahwa Tuhan memang menghendaki kesembuhan bukan sakit penyakit (roh jahat yang mengganggu) yang harus ditanggung seterusnya. Menanggung sakit-penyakit terus-menerus bukanlah hal yang menyenangkan bagi penderitanya dan tentu tidaklah memuliakan Tuhan sama sekali.(*)

Bagaimana dengan pergi ke dokter bila sakit? Saya percaya, ini pun dapat disebut tindakan iman bila memang diperlukan/diinginkan si penderita/orang di sekitarnya. Memuliakan Tuhankah itu? Ya tentu saja, karena bertindak dalam iman (Rom.14:23b- Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa). Ingatlah ada takaran iman bagi tiap orang. Dan ingatlah akhirnya ada batasan kemampuan dari para dokter. Dan terakhir ingatlah: “Ulangan 29:29  Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya..”.

 

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

=============================================

Update (28-4-2009).

(*) Dikarenakan dapat membuat salah pengertian, dan setelah saya memikirkannya maka saya meng-edit pada bagian ini : “Menanggung sakit-penyakit terus-menerus bukanlah hal yang menyenangkan bagi penderitanya dan tentu tidaklah memuliakan Tuhan sama sekali.” dengan tambahan kalimat-kalimat berikut  :

è “Mengapa saya katakan demikian? Seringkali orang memakai alasan yang tampak rohani namun keliru dengan berkata bahwa sakit ini adalah “didikan Tuhan untuk saya” ; “Tuhan menghendaki saya bertumbuh dewasa dalam sakit penyakit ini” ; “lewat penyakit ini Tuhan dimuliakan dengan kesabaran saya menanggungnya” ; dst….

Lalu dalam hal apa Tuhan dimuliakan? Yaitu sewaktu dalam sakit yang lama (atau bahkan tanpa diinginkan ternyata seumur hidup), orang itu tetap memiliki iman bagi kesembuhan dan tetap percaya kehendak Tuhan bagi kesembuhan sekalipun bahkan “tidak mengalaminya” hingga kematiannya. Pikirkanlah mengapa di ayat alkitab berikut ini memakai kata “telah”: I Petrus 2 :24 “Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh”.  Sikap inilah yang tentu saja memuliakan Tuhan yaitu dasar sikap percaya bahwa oleh iman aku telah disembuhkan oleh bilur-bilur Yesus.

Apakah itu berarti harus pasrah (que sera sera) bila mengaku beriman tapi tidak sembuh juga? Tidak sama sekali, melainkan tetaplah mempertahankan sikap hati yang benar. Bukankah memuliakan Tuhan adalah dimulai dari motif hati? Bila tetap mempertahankan sikap hati yang benar tadi, bukankah seseorang juga tetap akan melakukan hal lain apapun yg memuliakan Tuhan tanpa membiarkan sakitnya menghalanginya karena tetap percaya apa yang Yesus sudah kerjakan di kayu salib?” Jadi tidaklah bijaksana untuk menuduh seseorang yang tidak sembuh (atau lebih tepatnya, belum sembuh) sebagai orang yang kurang beriman atau punya dosa tersembunyi atau kena hukuman Tuhan atau “tuduhan sampah agamawi lainnya”. ç

 

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

“tuduhan sampah agamawi lainnya”. ç

==============================================

(* Updated, 29.4.2009)

Sebesar apakah iman yang besar dan iman yang kecil dalam hal mujizat kesembuhan?

Yesus pernah memuji seseorang yang ditemuiNya dengan mengatakan bahwa Ia tidak pernah menjumpai iman yang sebesar itu pada orang di Israel di masaNya. (Mat.8:10; Luk.7:9). Beberapa terjemahan alkitab juga mengartikan iman yang sebesar ini dengan kata-kata sbb: “jenis percaya yang sederhana seperti ini”, “iman yang seperti ini”, “jenis iman yang seperti ini”.

Lalu iman yang kecil, sebesar apa kecilnya?

Yesus mengatakan di  Mat.17:20  “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Saya pernah menaruh di telapak tangan saya biji sesawi. Ukurannya sangat kecil dari biji-biji yg pernah saya temui dan mudah terhembus angin). Namun di ayat sebelumnya, Yesus menegur para muridNya yang tidak berhasil, karena mereka: “kurang percaya” (ITB); dan beberapa terjemahan lain menulis “tidak cukup iman” (CEV), “iman yang begitu kecil”(NIV), “ketidakpercayaanmu” (KJV), “kecilnya  (littleness) imanmu” (NASB).

Jadi, iman yg “sebesar” biji sesawi saja bisa “memindahkan gunung”, maka iman “sekecil” apalagi yang tidak berhasil pada murid-mrid Yesus di Mat.17:20? Kecilnya iman murid-murid Yesus di sini dapat saja diartikan kurang percaya, ketidakpercayaan, terlalu kecil untuk diingat, tidak sebesar.., kecil/sedikit dalam hal pentingnya/ketertarikanya/seriusnya ata terlalu singkat durasinya.

Lalu sebesar apa iman buat mujizat kesembuhan? Sebesar yang dapat diperlukan untuk terobosan. Artinya iman itu harus sebesar 'lawan' dari ukuran iman yang  jauh lebih kecil dari “ukuran biji sesawi”. Artinya, tidak ada "ukuran pasti". Benar-benar merendahkan hati ! Benar-benar bergantung serta fokus ke Tuhan saja yang dapat memastikannya!