Engkau ada ketika aku mulai ada
Jauh di dalamku dan tak pernah terpikir
Tersembunyi di dalam tak terjangkau naluriku
Mungkin aku pernah melihatmu
saat masih sangat belia diriku
Bagiku engkau hanya sesosok apa
sulit bagiku untuk mecerna dan kutinggalkan engkau begitu saja
Aku tak tertarik bahkan terbersit menjadi sebuah pengetahuan pun, belum
Namun engkau selalu setia menanti
menanti karena engkau ada di dalamku
…
…
…
Hingga tiba saat ragaku meregang
Waktu dan pemeliharaanlah yang menjadikannya
Duniaku, tempat ku berpijak, tempatku duduk dan berbaring
menyodorkan dirimu padaku
Aku malu dan berlari menjauhimu
Hingga suatu kali ku tersadar
Ketika engkau menemuiku aku masih malu
Ahh kututup saja mataku
Suaramu memanggilku, merdu bahkan hembusan nafas dari katamu menerpa pipi
dan mengalir ke telinga mencari rongga tuk sampai ke gendang
Seluruh sarafku tergetar dan tersalurlah ke otakku
Perlahan kubuka telapak yang kupakai menutup mukaku
dan jemari yang kupakai tuk menjarak engkau dengan aku
Terurai tiga batang dan separuh mata kiriku menatap
Cantik dan indah dikau
Wangi semerbak baumu
Tapi aku malu, aku benar-benar malu!
Sebagian duniaku bilang bahwa engkau kejijikan
Engkau sampah yang seharusnya tidak menghampiriku
Akhirnya kubuka seluruh jemariku dan
memalingkan seratus delapan puluh wajahku
Aku berlari menjauhimu
Berlari dan berlari hingga tanpa sadar lunar telah menyelimutiku
Lemas dan bergetar seluruh lututku, mengalir keseluruh persendianku
Aku tergeletak tuk pemulihan
Sendiku kembali tersusun dan ototku melemas
Baru sebentar ku memejam mata…
engkau hadir
Semerbak baumu kembali terciumku
Biadab engkau
Biadab, biadab, biadab, biad…
Atau… atau…
Biadab aku?
Tak beradablah diriku!!!
Engkau tersenyum dan ooh…
Tak kuasa diriku
Engkau memang indah, menawan dengan penampilan
Aku mencoba bangkit dan berlari
Aku berhasil berlari
Tapi kemanapun aku berada di situ engkau ada
Aku bersembunyi sambil menghantam diriku
Kutampar keras pipiku sambil berkata, “Sadarlah!”
Tapi kapanpun aku berlari
sejauh apapun
sekeras apapun kutampar pipiku dengan maksud menjauhimu
engkau selalu ada dan tersenyum
Engkau mengundangku
“Peluk aku sayang, aku tercipta di dalammu”
Ku terhenyak dan sadar
Yah… memang dia ada sejak aku ada
Hanya saja dia mulai bergelora saat ragaku mulai memekar
Kau memang cantik dan indah
Bibirku tersenyum dan mataku sayu menatapmu
Saat itulah kau menyentuhku, mendekapku dan memasukkan ke dalam pelukanmu
Menyatulah diriku, membaurlah segalanya
Sambil selalu engkau berbisik mesra, “sayang aku ada semenjak engkau tercipta”
“aku selalu di dalammu dan akan memudar seiring pudarnya ragamu”
Aku menyahutnya,
"Sayang, engkau kejam sekali
Tapi juga selalu kunikmati
Bagaimana tidak karena memang engkau telah ada di dalamku"
Ahh…
kunikmati selalu
suara erangan kecupan sentuhanmu.