![]()
Pada Bagian 10 ini (mungkin 2-3 Blog lagi maka Bagian Pendahuluan ini akan berakhir sebagaimana sudah selayaknya segera masuk ke dalam Isi dari Kajian topik), perunutan saya tentang kabar burung Lucifer memasuki sumber runutan yang cukup penting dan boleh dibilang merupakan sumber landasan yang kuat bagi acuan asal muasal Lucifer yang cukup lama beredar di kalangan Kristen bahkan menjadi acuan bagi banyak kalangan (umum) setelah abad kejayaan Kristen dan abad pencerahan.
Ya, … sumber yang saya maksud itu adalah sebuah karya sastra, puisi epos berjudul Paradise Lost karya seorang penyair Inggris bernama John Milton.
Tidak banyak yang menyadari bahkan kaum rohaniwan dan para teolog sekalipun tentang bagaimana karya sastra ini mempengaruhi dunia akan pandangan terhadap ‘sosok' Lucifer. Tidak banyak juga yang pernah menyimak Paradise Lost sesungguhnya dari sumbernya, namun syair bersifat epik ini merupakan refleksi dari Kitab Kejadian pasal 1-3 pada Alkitab milik umat Kristen. Oleh sebab itu, tidak heran jika saru-saru terdengarnya yang membuat banyak orang bahkan umat Kristen sendiri menyangkanya sebagai sebuah kebenaran yang bersumber dari Alkitab.
Rangkaian kata yang kaya dan kompleks, beragam referensi klasik, dan nilai seni dari pernak-pernik dan dekorasi syair ini diilhami oleh era Renaissance sehingga isi dari puisi ini tidak lepas dari pengaruh perkembangan era di zaman Milton dan sebelum-sebelumnya. Kisah pada Paradise Lost adalah kisah tragedi kejatuhan Lucifer. Sangat apik, dan Setan ditempatkan sebagai tokoh utama pada karyanya dan sejak awal Setan ditempatkan pada posisi yang mengundang simpati pembaca. Alur ceritanya sangatlah persis seperti apa yang tertulis pada Kitab Kejadian pasal 1-3 karena memang latar belakang Kristiani Milton dan memanglah Kitab Kejadian merupakan sumber inspirasinya. Tokoh Allah Sang Pencipta, Adam, Hawa dan ular seperti yang Alkitab catat dapat ditemukan juga pada karyanya sehingga pembaca merasa seperti membaca ktiab Kejadian namun dengan ‘tambahan’ hasil eksplorasi dan imajinasi Milton sehingga muncullah tokoh-tokoh lain seperti para malaikat pemberontak, Gabriel, Michael, Raphael dan seterusnya. Namun, hal itu tetaplah sah-sah saja sebagai suatu karya seni dan rupanya pendekatan miris à la John Milton terhadap Setan (Lucifer) ini bak pendekatan miris tragedi kapal Titanic yang difilimkan ulang oleh James Cameron yang mendapat tempat dan hati di masyarakat pada zamannya dan akhirnya terus menjalar hingga masyarakat saat ini.
Sedikit perlu diketahui bahwa kompleksnya gaya bahasa Paradise Lost mencerminkan kisah hidup sang penulis. John Milton nampaknya tidak pernah merasakan kehidupan keluarga yang bahagia. Pernikahan pertamanya kandas, demikian pula dengan pernikahan yang kedua dan ketiga. Belum lagi Milton harus mengarungi biduk kehidupan yang diwarnai dengan kemiskinan, kebutaan, pengucilan dan kegagalan.
Di titik kehidupan terendah inilah Milton menyelesaikan sebuah syair yang bertajuk “justifying the ways of God to men” yang kemudian terbit dengan judul Paradise Lost. Paradise Lost (Dalam terjemahan Indonesianya: Firdaus yang Terhilang) ini merupakan bagian dari kisah hidupnya. Namun, Milton tidak berhenti pada kegundahan tertinggi terhadap hilangnya Firdaus, sebab “Satu Orang yang lebih agung” akan datang dan memulihkan manusia, paparnya. Mungkin pengharapan ini yang pada akhirnya membuahkan syair selanjutnya, Paradise Regained di tahun 1671.
Sebelum lebih lanjut melihat ringkasan dari Paradise Lost ini seperti yang saya baca pada copy bukunya dari pemesanan saya melalui amazon.com pada akhir tahun 2008, saya mencoba mengajak untuk menyimak dulu secara umum dari catatan sejarah tentang siapa itu Sang Penulis dan karyanya yang terbilang ‘fenomenal’ tersebut.
Dari Wikipedia Umum:
John Milton lahir 9 Desember 1608 dan meninggal 8 November 1674 pada umur 65 tahun. Ia adalah seorang penyair Inggris. Ia terkenal oleh karyanya di zamannya tentang hal-hal yang religius dan topik politik tentang kebebasan. Karyanya yang sangat terkenal hingga saat ini adalah puisi eposnya bertajuk Paradise Lost yang dipublikasikan pertama kalinya pada tahun 1667 dalam sepuluh buku dengan total hampir lebih dari sepuluh ribu kalimat. Edisi keduanya terbit di tahun 1674 dengan dua belas buku dengan sedikit revisi dan catatan-catatan khusus. Diakui bahwa karyanya ini telah mengangkat namanya dan dijadikan salah satu karya puisi Inggris terbesar di zamannya.
Puisi ini mengambil ide cerita tentang kejatuhan manusia, Adam dan Hawa yang bersumber dari Alkitab khususnya Kitab Kejadian 1-3 yang dilakukan oleh Setan si Lucifer yang sebelumnya digambarkan jatuh dari Surga Sang Pencipta.
Kepercayaan Milton
Pada masa Milton, Inggris menganut Reformasi Protestan dan sudah memutuskan hubungan dengan Gereja Katolik Roma. Secara umum, orang Protestan percaya bahwa wewenang yang mengatur iman dan moral bersumber dari Alkitab saja dan bukan dari paus. Namun, dalam buku On Christian Doctrine, Milton memperlihatkan bahwa banyak doktrin dan praktek Protestan juga tidak selaras dengan Alkitab. Berdasarkan Alkitab, ia menolak doktrin pengikut Calvin mengenai takdir dan mendukung adanya kebebasan memilih. Belakangan ditemukan sumber sejarah yang menyatakan bahwa Milton dipercaya menganut Kristen ajaran Arianisme.
PARADISE LOST (Firdaus Yang Terhilang)
RANGKUMAN SINGKAT
PENDAHULUAN
Paradise Lost (dalam terjemahan bahasa Indonesianya sebagai Firdaus Yang Terhilang) adalah kisah epos, sebuah puisi epik karya John Milton tentang Adam dan Hawa; bagaimana mereka diciptakan dan bagaimana mereka akhirnya terusir dari tempat mereka di Taman Eden yang disebut Paradise (Firdaus). Kisah ini merupakan kisah yang terinspirasi dan sama pada halaman-halaman awal Kitab Kejadian, Alkitab Kristiani namun diperpanjang dalam paparan-paparan berbentuk puisi yang rinci dan bergaya naratif yang panjang sebagaimana layaknya sebuah karya epos yang lengkap dengan peristiwa besar peperangan, kisah kepahlawanan, kehebatan tokoh-tokoh digdaya dan campur tangan makhluk supernatural. Kisah epik ini juga mengisahkan cerita asal muasal dari Setan. Awalnya, Setan disebut sebagai Lucifer, sesosok malaikat di Surga Allah yang kemudian mempimpin para antek-anteknya dalam sebuah peperangan melawan Allah dan kemudian dilemparkan Allah bersama para pengikutnya (antek-anteknya) itu ke dalam sebuah neraka. Yang selanjutnya digerakkan oleh rasa balas dendam, Lucifer itu menyebabkan terjadinya kejatuhan manusia yang diciptakan Allah dengan jalan ia mengubah dirinya menjadi ular dan kemudian menggoda Hawa untuk makan buah ‘terlarang’ di Taman Eden.
Karya Gustave Dore, Ilustrasi untuk Paradise Lost (1866)
RANGKUMAN
Cerita dimulai dengan setting tempat di neraka, dimana Setan dan antek-anteknya tengah mengupayakan kekuatan mereka setelah ‘kalah’ dan terbuang dalam peperangan yang mereka lakukan melawan Allah. Mereka membangun sebuah tempat yang disebut Pandemonium (adalah nama yang ditemukan oleh John Milton untuk menyebut ‘the capital of Hell’ atau ibukota dari neraka) dimana mereka mengadakan pertemuan ‘kenegaraan’ untuk mengambil keputusan untuk menentukan apakah mereka sebaiknya kembali dalam peperangan melawan Allah atau tidak. Namun bukannya mereka memutuskan untuk menjalani sebuah dunia baru yang mereka telah diberitahukan untuk terjadi dimana sebuah perencanaan pembalasan dapat dilakukan, Setan memutuskan untuk menjalani misinya sendirian. Di Gerbang Neraka, dia bertemu dengan sosok karakter yang bernama Sin (karakter alegorikal ciptaan Milton sebagai penjaga gerbang Neraka pada Buku II yang digambarkan memegang kunci Gerbang neraka dan membuka gerbang sehingga Setan dapat melalui gerbang tersebut ke Surga. Sin sendiri tidak memiliki Ibu dan adalah anak dari Setan itu sendiri pada saat pemberontakannya di Surga) dan karakter yang bernama Death (karakter alegorikal pada Buku II dengan pembawaan tidak sesedih Sin namun karakternya lebih agresif, membawa anak panah dan persenjataan) yang membuka gerbang baginya. Kemudian ia melakukan perjalanan melalui chaos hingga akhirnya ia melihat sebuah universe yang baru mengapung dekat dengan globe yang lebih besar yaitu Surga. Allah melihat Setan yang terbang mendekati bumi dan memberitahunya tentang ‘kejatuhan manusia’. Anak-Nya, yang duduk di sebelah tangan kanan-Nya mengajukan untuk mengorbankan diri-Nya sendiri untuk keselamatan manusia. Sementara Setan memasuki dunia yang baru itu. Ia terbang menuju matahari dengan mengelabui malaikat, Uriel yang menunjukan jalan ke rumah manusia.
![]()
Karya Gustave Dore, Ilustrasi untuk Paradise Lost (1866)
Setan mencapai pintu masuk ke Taman Eden dimana ia menemukan Adam dan Hawa dan menjadi cemburu terhadap mereka. Ia secara tidak sengaja mendengar percakapan di antara mereka tentang Perintah Allah bagi mereka agar tidak memakan buah terlarang itu. Uriel memperingati Gabriel dan para malaikatnya sebagai penjaga pintu Firdaus tentang kehadiran Setan. Setan dapat ditemukan oleh para penjaga pintu Firdaus dan kemudian dibuang dari Taman Eden. Allah mengirimkan Raphael untuk memperingati Adam dan Hawa tentang Setan. Raphael menjelaskan kepada mereka tentang bagaimana Setan cemburu dan menentang Anak Allah dan pernah bersama sejumlah malaikat-malaikat mengadakan pertempuran menentang Allah di Surga dan bagaimana Anak Allah, Mesias, melemparkannya dan para antek-anteknya ke dalam neraka. Ia menghubungkan dengan bagaimana selanjutnya dunia dijadikan agar suatu hari kelak umat manusia dapat menggantikan kedudukan para malaikat yang terbuang itu di Surga.
Setan kembali ke bumi dan masuk dalam wujud ular. Suatu hari, Setan menemukan Hawa sedang sendirian lalu menggodanya untuk memakan buah dari pohon terlarang itu. Adam, selanjutnya juga bergabung dalam takdir Hawa dengan memakan buah itu juga. Akhirnya kepolosan mereka lenyap dan mereka menjadi tersadar bahwa mereka telanjang. Dalam keadaan malu dan putus asa, mereka menjadi sangat rentan sesama mereka. Anak Allah turun ke bumi untuk menghakimi mereka yang berdosa melanggar perintah-Nya namun masih bermurah hati untuk menunda puntusan kematian mereka. Sin dan Death merasakan keberhasilan Setan lalu membangun sebuah jalan ke bumi, rumah baru mereka. Sekembalinya Setan ke neraka, bukannya terjadi sebuah perayaan kemenangan namun Setan dan antek-anteknya berubah menjadi ular sebagai hukuman mereka. Adam berbaikan dengan Hawa. Allah mengirimkan Michael untuk mengasingkan Adam dan Hawa dari Firdaus tetapi dengan memberitahukan masa depannya sebagai akibat dari perbuatan dosanya. Adam sangat sedih dengan pengetahuan masa depannya itu namun akhirnya terhiburkan dengan penyingkapan bahwa akan datang Juruselamat umat manusia. Kesedihan diubahkan menjadi sebuah harapan demikian Adam dan Hawa diasingkan dari Taman Firdaus itu.
RINGKASAN BUKU PER BUKU PADA KARYA PARADISE LOST
BUKU I

Karakter: Lucifer yang jatuh
Sebuah pendahuluan yang menyebutkan kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa yang disebabkan oleh ular yang adalah Setan itu yang memimpin pemberontakan para maliakat-malaikat dalam sebuah revolusi menentang Allah dan kemudian dibuang ke dalam neraka. Kisah ini dibuka dengan gambaran suram Setan meratap di dekat kawah berapi dengan Beelzezub di sampingnya. Setan mengumpulkan para legion-legionnya di tepian dan mengobarkan semangat mereka melalui pidatonya. Mereka kemudian membangun sebuah tempat bernama Pandemonium dimana para malaikat dengan kecakapan teratas menduduki council atau senat.
BUKU II
Sebuah debat diadakan mengenai apakah sebuah usaha dilakukan atau tidak untuk kembali menguasai Surga. Proposal ketiga ternyata lebih diminati mengenai sebuah penglihatan akan masa depan dari zaman dahulu akan terciptanya sebuah dunia baru dimana para setan-setan dapat melakukan pembalasannya. Setan sendirian berinisiatif melakukan perjalanan untuk mencari dunia yang dimaksud itu. Ia bertemu dengan keturunannya sendiri, Sin dan Death yang menjaga Gerbang Neraka. Sin membuka tutup gerbang neraka dan Setan berangkat melalui sebuah jalan menyeberangi jurang besar pemisah di antara Surga dan neraka yang kemudian akhirnya ia melihat sebuah universe baru mengapung dekat dengan globe yang lebih besar itu yaitu Surga.

Karakter: Sin dan Death
BUKU III
Allah melihat Setan terbang mendekati bumi dan menyingkapkan keberhasilan dari kejahatan Setan untuk menggoda manusia. Allah menjelaskan tujuan dari anugerah dan belas kasih-Nya kepada manusia namun keadilan harus tetap ditegakkan. Anak Allah, yang duduk di sebelah tangan kanan-Nya memilih untuk mengorbankan diri-Nya sendiri untuk keselamatan umat manusia yang menyebabkan para malaikat merayakannya dalam alunan lagu-lagu pujian.
Sementara Setan mendekati kulit luar dari bumi dimana ia menenukan juga jalan masuknya, ia terbang mendekati matahari dimana malaikat Uriel berjaga. Menyamar sebagai kerub, Setan berpura-pura bahwa kedatangannya untuk memuji ciptaan Allah dan dengan jalan demikian memanipulasi malaikat untuk menunjukan jalan ke rumah manusia.
BUKU IV
Mencapai puncak Mt. Niphates, Setan merasakan disiluminasi sesaat namun segera melanjutkan misi jahatnya. Dengan mudah ia mendapatkan rahasia pintu gerbang Taman Firdaus. Ia sangat takjub dengan keindahannya dan sesegera mungkin bertemu dengan Adam dan Hawa dan seketika merasakan rasa cemburu yang sangat dalam terhadap keadaam mereka yang sangat bahagia. Ia mendengar mereka mempercakapkan perintah Allah untuk tidak memakan buah dari Pohon Pengetahuan Yang Baik dan Jahat agar tidak mendapat hukuman kematian dan selanjutnya ia merencanakan sebuah plot untuk membuat mereka melanggar perintah Allah itu.
Uriel menjadi sangat curiga lalu memperingati Gabriel dan para malaikatnya para penjaga Gerbang Firdaus. Sore itu, dua laskar kiriman Gabriel menemukan Setan sedang berbisik di telinga Hawa sebagaimana Hawa sedang tertidur di sebelah suaminya. Laskar itu menangkap dan membawa Setan kepada Gabriel dan kemudian Gabriel membuangnya dari Eden.
BUKU V
Pagi hari esoknya, Hawa menceritakan kepada Adam tentang mimpinya yang membuatnya berduka dan Adam menghiburnya. Allah mengirim malaikat Raphael untuk mengunjungi pasangan itu dan memperingati akan musuh mereka. Raphael tiba dan sempat makan malam bersama lalu menceritakan tentang sejarah kejatuhan Setan: bagaimana ia menjadi sangat cemburu dengan Anak Allah yang menyebabkan ia mengumpulkan antek-anteknya untuk melakukan pemberontakan terhadap Allah dan bagaimana satu malaikat, Abdiel menolak memberontak dan tetap memilih untuk setia kepada Allah.

Karakter: Raphael, Adam, dan Hawa
BUKU VI
Raphael melanjutkan ceritanya bagaimana Michael dikirim untuk memimpin para malaikat yang setia berperang melawan Setan (yang kemudian disebut Lucifer) dan para antek-anteknya. Karena terluka, Setan dan antek-anteknya mundur sejenak. Menjelang malam hari mereka menemukan persenjataan. Pada hari kedua pertempuran itu, Michael dan pasukannya diperhadapkan dengan peralatan para penjahat itu. Peperangan terus berlanjut hingga hari ketiga ketika Allah mengirim Mesias, Anak-Nya untuk mengakhiri peperangan. Dengan mengendarai kereta berapinya, Mesias menaklukan para pemberontak dengan melemparkannya dari Surga ke dalam neraka.
BUKU VII
Raphael kemudian menceritakan kepada Adam bagaimana Allah mengirimkan Anak-Nya untuk mencipta bumi yang baru dan makhluk-makhluk yang baru untuk menggatikan tempat yang ditinggali oleh para malaikat yang jatuh tersebut. Selanjutnya penciptaan selama enam hari dideskripsikan.
BUKU VIII
Adam kemudian menceritakan kepada Raphael apa yang diingatnya tentang penciptaannya, kesan pertamanya tentang bumi dan segala makhluk ciptaan, Taman Eden, dan pertemuan pertamanya serta pernikahannya dengan Hawa. Setelah berulang kali memperingati Adam, Raphael kembali.
BUKU IX
Setan kembali ke bumi dengan mengambil wujud ular untuk penyamarannya. Pagi berikutnya ketika Adam dan Hawa tengah mengerjakan tugas-tugasnya di Taman itu, Hawa mengusulkan untuk bertugas dengan arah berbeda dengan Adam dan dengan pertimbangan matang akhirnya Adam menyetujui. Ular itu menemukan Hawa saat ia sendiri dan memutuskan untuk mendekatinya. Hawa sangat terkejut menjumpai makhluk selainnya dan Adam yang dapat berbicara dan selanjutnya Hawa terbujuk untuk memakan buah dari Pohon ‘terlarang’ itu. Adam sangat terkejut ketika ia mendapatkan bahwa Hawa memakan buah itu namun setelah percakapan panjang akhirnya ia sendiri juga berbagi takdirnya dengan Hawa dengan memakan buah itu bukannya meninggalkan Hawa. Setelah keduanya memakan buah itu, bangkitlah berahi atas mereka berdua dan saling bermesraanlah mereka berdua hingga tertidur. Ketika terbangun, mereka berdua menyadari bahwa mereka dalam keadaan telanjang dan menjadi malu dan menutupi ketertelanjangan mereka dengan daun-daun. Dalam keadaan tertekan, mereka berdua saling menuduh dan menyalahkan satu sama lain.
BUKU X
Malaikat penjaga kembali ke Surga, menceritakan kejatuhan manusia itu dan Anak Allah turun ke bumi untuk menghakimi yang berdosa. Karena anugerah-Nya, Anak Allah menangguhkan hukuman atas manusia itu dalam beberapa hari dan selama hari itu, manusia itu mulai bekerja mendapatkan kembali perkenanan hati Allah. Kemudian dengan belas kasih, Allah mengenakan pakaian atas manusia itu.
Di Gerbang Neraka, Sin dan Death dapat merasakan keberhasilan Setan dengan misinya pada dunia baru itu. Mereka merencanakan untuk membangun sebuah jalan melalui bentangan jurang agar selanjutnya menjadi lebih mudah untuk mencapai bumi. Setan menemui mereka di perjalanan pulangnya ke neraka dan sangat mengagumi apa yang mereka kerjakan. Setibanya di Pandemonium, Setan menyombongkan dirinya akan keberhasilannya pada antek-anteknya. Namun, bukannya memberikan pujian, para antek-antek itu seketika semuanya berubah mejadi ular karena hukuman dari Allah atas mereka.
Allah memerintahkan para malaikat-Nya untuk melakukan perubahan-perubahan untuk mengatasi bumi yang telah berkeadaaan ‘rusak’ akibat pelanggaran manusia itu sementara Adam mulai berkeluh-kesah akan kondisinya yang menjadi buruk dan dimulailah nasib umat manusia. Awalnya Adam menolak Hawa untuk kembali kepadanya tetapi akhirnya karena kegigihan Hawa akhirnya Adam mengampuninya. Hawa mengajukan agar mereka berdua melakukan bunuh diri sebagai tanda penyesalan namun Adam mengingatkan akan janji Allah bahwa keturunannya akan menghancurkan ular itu. Lebih dari itu, mereka harus menemukan perdamaian dengan Allah mereka.
BUKU XI
Allah mengirimkan Michael dan melarang pasangan itu untuk kembali ke Firdaus tetapi menyingkapkan kepada Adam tentang keadaan masa depan yang akan dihadapinya sebagai akibat dari dosa yang dibuatnya. Malaikat itu turun ke Eden dan memberitakan kabar tentang pengusiran mereka yang menyebabkan Hawa menjadi sangat sedih dan menangis. Michael membawa Adam ke sebuah bukit yang tinggi dan menyingkapkan sebuah penglihatan akan apa yang akan terjadi hingga datangnya Air Bah.
Karakter: Michael
BUKU XII
Michael melanjutkan penyingkapannya setelah datangnya Air Bah hingga keturunan dari wanita itu yang akan melahirkan Juruselamat yang dijanjikan Allah yang akan menebus dosa umat manusia. Adam menjadi sangat terhibur dan dikuatkan dengan penglihatan terakhir yang disingkapkan oleh Michael dan memilih dengan setia untuk taat. Adam turun dari bukit itu bersama Michael dan mendapati Hawa yang tengah terbangun dari tidurnya kemudian meneguhkannya sebagai istrinya. Sebuah pedang menyala-nyala ditempatkan sebagai pemisah di Gerbang itu sehingga Adam dan Hawa tidak dapat masuk ke Firdaus itu lagi.
Kata ‘Lucifer’ dan Alkitab Vulgata
Dari Wikipedia Umum:
Lucifer adalah nama yang seringkali diberikan kepada Iblis dalam keyakinan Kristen karena penafsiran tertentu atas sebuah ayat dalam Kitab Yesaya. Secara lebih khusus, diyakini bahwa inilah nama Iblis sebelum ia diusir dari surga.
Dalam bahasa Latin, kata "Lucifer" yang berarti "Pembawa Cahaya" (dari lux, lucis, "cahaya", dan "ferre", "membawa"), adalah sebuah nama untuk "Bintang Fajar" (planet Venus ketika muncul pada dini hari).
Versi Vulgata Alkitab dalam bahasa Lain menggunakan kata ini dua kali untuk merujuk kepada Bintang Fajar: sekali dalam 2 Petrus 1:19 untuk menerjemahkan kata bahasa Yunani "????????" (Fosforos), yang mempunyai arti harafiah yang persis sama dengan "Pembawa Cahaya" yang dimiliki "Lucifer" dalam bahasa Latin; dan sekali dalam Yesaya 14:12 untuk menerjemahkan "????" (Hêl?l), yang juga berarti "Bintang Fajar". Dalam ayat yang belakangan nama "Bintang Fajar" diberikan kepada raja Babilonia yang lalim, yang dikatakan oleh nabi akan jatuh. Ayat ini belakangan diberikan kepada raja iblis, dan dengan demikian nama "Lucifer" kemudian digunakan untuk Setan, dan dipopulerkan dalam karya-karya seperti Inferno oleh Dante dan Paradise Lost oleh Milton, tetapi bagi para pengguna bahasa Inggris, pengaruhnya yang terbesar disebabkan karena nama ini digunakan dalam Alkitab Versi Raja James, sementara versi-versi bahasa Inggris lainnya menerjemahkannya dengan "Bintang Fajar" atau "Bintang Siang".
Sebuah nas serupa dalam Kitab Yehezkiel 28:11-19 mengenai raja Tirus juga diberikan kepada Setan, sehingga menambahkan gambaran lain kepada gambaran Setan dan kejatuhannya yang tradisional.
Penafsiran Kata Lucifer
• Yesaya 14:12:
Terjemahan Baru: “Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!"
Kata "Lucifer" digunakan oleh Jerome (Hieronimus) di abad keempat ketika menerjemahkan Vulgata (Alkitab bahasa Latin). Ungkapan Ibrani "HEYLEL BEN-SYAKHAR"; "HEYLEL" adalah kata Ibrani untuk "Bintang Timur" alias planet Venus, sedangkan "BEN-SYAKHAR" harfiah "anak (putra) Fajar".
• Alkitab Vulgata
"quomodo cecidisti de caelo lucifer qui mane oriebaris corruisti in terram qui vulnerabas gentes".
Kata "Lucifer" muncul dalam Alkitab Terjemahan seperti King James Version/ Douay Rheims/ Darby, mungkin diserap dari Alkitab Latin (Vulgata).
• Versi King James (KJV):
"How art thou fallen from heaven, O Lucifer, son of the morning! how art thou cut down to the ground, which didst weaken the nations!"
• Douay Rheims:
How art thou fallen from heaven, O Lucifer, who didst rise in the morning? how art thou fallen to the earth, that didst wound the nations?
• Darby:
How art thou fallen from heaven, Lucifer, son of the morning! Thou art cut down to the ground, that didst prostrate the nations!
Dalam terjemahan bahasa Inggris lain, misalnya "New International Version (NIV)" tidak dijumpai kata Lucifer. Tidak adanya kata "Lucifer" terkait dalam "Gerakan Hanya Alkitab King James" (King James Only Movement) yang menyatakan bahwa Alkitab-alkitab modern kecuali Alkitab King James tahun 1611 merupakan hasil kopi yang telah dirusak dan tidak bisa dipercaya lagi sepenuhnya.
• New International Version:
"How you have fallen from heaven, O morning star, son of the dawn! You have been cast down to the earth, you who once laid low the nations!"
Dalam terjemahan Young's Literal Translation (YLT) tidak ada kata Lucifer:
• Young's Literal Translation:
How hast thou fallen from the heavens, O shining one, son of the dawn! Thou hast been cut down to earth, O weakener of nations.
Naskah Masora Ibrani hanya menulis HEYLEL dari kata HALAL, "memuji". Dalam ayat itu tidak dijumpai kata Iblis (bahasa Ibrani: "Satan"). Kata Indonesia "setan" hanya dijumpai dalam Perjanjian Baru. Tidak ada kata "Lucifer" dalam Perjanjian Baru bahasa Yunani maupun Alkitab Ibrani. Kata Lucifer adalah kata terjemahan, bukan kata dalam bahasa asli Alkitab. Terjemahan lain yaitu dari sumber-sumber Yahudi, misalnya Hebrew Names Version (HNV) of the World English Bible, juga tidak memakai kata "Lucifer".
• Hebrew Names Version of the World English Bible:
"How you are fallen from heaven, Heylel, son of the morning! How you are cut down to the ground, who laid the nations low!"
• Jewish Publication society Tanakh:
How art thou fallen from heaven, O day-star, son of the morning! How art thou cut down to the ground, that didst cast lots over the nations!
• The Orthodox Jewish Bible:
"How art thou fallen from Shomayim, O Heilel Ben Shachar! How art thou cast down to the earth, thou, which hast laid low the Goyim!"
Jadi jelas, bahwa kata Lucifer adalah terjemahan dalam bahasa Latin, digunakan dalam Vulgata, Alkitab bahasa Latin.
Jika kita baca konteks Yesaya 14:1-23, ayat tentang Lucifer ini mengacu kepada raja Babel:
• Ada yang mengatakan Nebukadnezar.
• Ada pula yang mengatakan ada raja Babel yang bernama Heylel bin Syakhar.
Terjemahan Septuaginta (LXX, dalam bahasa Yunani) untuk ayat Yesaya 14:12:
• LXX:
??? ???????? ?? ??? ??????? ? ???????? ? ???? ????????? ????????? ??? ??? ??? ? ?????????? ???? ????? ?? ????
Transliterasi: pôs exepesen ek tou ouranou ho heôsphoros ho proi anatellôn sunetribê eis tên gên ho apostellôn pros nanta ta ethnê
Septuaginta menerjemahkannya "ho heosphoros ho proi"; "heos" berarti "hingga; sampai", "phoros" berarti "cahaya" dan "proi" adalah "dini hari".
Hubungan Lucifer dengan Iblis
Beberapa penafsir beranggapan bahwa ayat-ayat ini bukan hanya mengacu kepada raja Babel, tetapi juga berisi acuan yang terselubung kepada Iblis. Mereka menghubungkan hal ini dengan pernyataan Yesus Kristus di bawah ini:
• Lukas 10:18:
Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit."
Textus Receptus: ????? ?? ?????? ???????? ??? ??????? ?? ???????? ?? ??? ??????? ???????
Transliterasi Interlinear : eipen {Dia berkata} de {lagi} autois {kepada mereka} etheôroun {Aku melihat} ton satanan {Setan atau Iblis} hôs {seperti} astrapên {kilat} ek {ke luar dari} tou ouranou {langit} pesonta {jatuh dibuang}
Alkitab Vulgata
Alkitab Vulgata adalah sebuah versi awal abad ke-5 dari Alkitab dalam Bahasa Latin yang sebahagiannya adalah hasil revisi dan sebahagiannya lagi adalah hasil terjemahan Hieronimus (Jerome) atas perintah Paus Damasus I pada tahun 382. Alkitab ini disebut vulgata dari frasa versio vulgata, yakni "terjemahan untuk umum", dan ditulis dalam gaya sastra Latin yang umum pada abad ke-4 yang berbeda dengan Bahasa Latin Cicero yang lebih elegan. Vulgata merupakan perbaikan dari beberapa terjemahan yang digunakan saat itu dan menjadi versi Alkitab definitif dan resmi dari Gereja Katolik Roma.
Sebagaimana halnya Alkitab Peshitta (Alkitab Syria) yang lebih tua, Perjanjian Lama Vulgata diterjemahkan langsung dari Alkitab Masoretika (Alkitab Ibrani), bukan dari Alkitab Septuaginta (Alkitab Yunani). Pada tahun 405 Masehi, Hieronimus menyelesaikan terjemahan kitab-kitab protokanonika Perjanjian Lama dari Bahasa Ibrani, dan kitab-kitab deuterokanonika Tobit dan Yudit dari Bahasa Aram. Kitab-kitab lain dan kitab Mazmur diterjemahkan dari Bahasa Yunani. Dalam Alkitab Vulgata edisi Clementina terdapat 76 kitab, 46 kitab Perjanjian Lama, 46 kitab Perjanjian Baru, dan 3 kitab Apokripa.
Hieronimus tidak terjun dalam pekerjaan ini dengan maksud untuk menciptakan sebuah versi baru dari keseluruhan Alkitab, tetapi hakikat perubahan dari program kerjanya dapat dilacak dalam korespondensinya yang panjang lebar itu (walaupun Hieronimus sendiri bukanlah seorang saksi mata yang dapat diandalkan). Dia telah ditugaskan oleh Paus Damasus pada tahun 382 untuk merevisi naskah Latin Kuno dari keempat Injil hasil terjemahan dari naskah-naskah Yunani terbaik; dan pada saat mangkatnya Paus Damasus pada tahun 384 dia telah sepenuhnya menunaikan tugas itu, bersama dengan sebuah revisi umum dari Septuaginta Yunani atas naskah Latin kuno untuk kitab Mazmur. Seberapa banyak keseluruhan Perjanjian Baru direvisi Hieronimus sulit untuk diketahui saat ini; dan jika demikian maka hanya sedikit dari karyanya yang masih ada dalam naskah Vulgata. Pada tahun 385 Hieronimus diusir dari Roma, lalu pergi menetap di Betlehem. Di sana dia menghasilkan sebuah versi baru dari kitab Mazmur, yang diterjemahkannya dari naskah Yunani Hexapla. Dia juga tampaknya telah menerjemahkan kitab-kitab Septuaginta lainnya ke dalam Bahasa latin; namun lagi-lagi, semuanya itu tidak ditemukan dalam naskah Vulgata. Tetapi sejak tahun 390 sampai 405 Hieronimus beralih menerjemahkan langsung dari Bahasa Ibrani - dan menerjemahkan ulang seluruh 39 kitab dalam Alkitab Ibrani; termasuk suatu versi lanjut, yakni yang ketiga, dari kitab Mazmur yang masih dapat ditemukan dalam sejumlah kecil manuskrip Vulgata.
Dalam hal memiliki arti penting bagi budaya, seni, dan kehidupan Abad Pertengahan, Vulgatalah yang paling unggul. Selama abad-abad kegelapan dan berlanjut pada masa Renaissance dan Reformasi, karya agung Santo Hieronimus itu tegak laksana pilar terakhir kejayaan Romawi dan batu karang Gereja Latin karena Vulgata berjuang mempersatukan Eropa yang terpecah-pecah melalui iman Katolik. Karena Versi Alkitab ini dikenal baik dan dibaca oleh umat beriman selama seribu tahun (antara tahun 400–1530 Masehi), Vulgata menjadi sangat berpengaruh, terutama atas seni dan musik, sebab Vulgata menjadi sumber ilham bagi lukisan-lukisan, kidung-kidung dan drama-drama rohani populer yang tak terbilang banyaknya.
Bahkan tatkala tradisi Reformasi Jenewa berusaha menggantikan Vulgata Latin dengan versi bahasa setempat yang diterjemahkan dari bahasa aslinya, Vulgata tetap mereka pertahankan dan gunakan dalam debat teologis. Baik dalam kumpulan khotbah-khotbah Yohanes Calvin dalam Bahasa latin, maupun dalam edisi Perjanjian Baru Bahasa Yunani karya Theodorus Beza, teks referensi Latin pendamping yang digunakan adalah Vulgata; dan di tempat-tempat gereja-gereja Protestan meneladani Jenewa melakukan upaya yang sama - seperti di Inggris dan Skotlandia - justru timbul apresiasi yang lebih luas atas terjemahan Hieronimus karena gaya bahasanya yang agung dan prosanya yang luwes. Padanan Vulgata yang paling dekat dalam Bahasa Inggris, yakni Alkitab Raja Yakobus (Alkitab King James Version), atau Authorised Version, memperlihatkan tanda-tanda pengaruh Vulgata, teristimewa jika dibandingkan dengan versi bahasa setempat yang lebih awal karya William Tyndale; dalam hal cara Hieronimus memadukan secara teknis kosa kata religius Latin yang tepat dengan gaya prosa yang agung dan ritme-ritme puitis yang kuat.
Siapa Hieronimus (Jerome)

Hieronimus atau dikenal sebagai Santo Jerome (sekitar 347-30 September, 420; Yunani: ???????? ????????? ?????????, Latin: Eusebius Sophronius Hieronymus) terkenal sebagai penerjemah Alkitab dari Bahasa Yunani dan Ibrani ke dalam Bahasa Latin. Dia juga adalah seorang apologis Kristen. Alkitab edisi Hieronimus, yakni Vulgata, masih merupakan naskah Alkitab penting dalam Gereja Katolik Roma. Dia diakui oleh Vatikan sebagai salah seorang Doktor Gereja.
Dalam tradisi artistik Gereja Katolik Roma, biasanya dia, yang adalah pelindung pendidikan teologi, dilukiskan sebagai seorang Kardinal, bersebelahan dengan Uskup Agustinus dari Hippo, Uskup Agung Ambrosius, dan Paus Gregorius I. Bahkan bilamana dia dilukiskan sebagai seorang pertapa uzur, dengan salib, tengkorak, dan Alkitab sebagai satu-satunya perabot dalam bilik pertapaannya, harus disertai pula topi merah atau sesuatu yang lain dalam lukisan tersebut untuk menunjukkan status kardinalnya.
Referensi:
1. Wikipedia Umum
2. Paradise Lost, A Poem In Twelve Books, John Milton
3. Kehidupan John Milton, ringkasan oleh Yudo
4. Firdaus Yang Terhilang?: Suatu Studi Perbandingan …, Nindyo Sasongko