Pernahakah saya menjadi orang sesat? jujur pernah, ketika saya kuliah saya sempat jadi atheis karna kecewa dan eforia pemikiran abstraksi saya yg sedang menjadi asupan bagi ego dan eksistensi saya
tapi dalam kesesatan tersebut ketika saya bertobat, saya sepenuhnya sadar bahwa yang namanya sesat itu bukan sesuatu yg relatif, melainkan sesuatu yg absolut
tergelitik dengan pledoi dan asumsi @Guest X mengenai SESAT ITU RELATIF, yang saya bisa pahami ybs berangkat dari titik bahwa perspektif utk menentukan sesat tersebut hanyalah absolut dimiliki Tuhan, dan sebagai manusia tidak bisa merampas kedaulatan Tuhan untuk menyatakan demikian, atau mungkin saja bahwa, kesesatan itu bisa menjadi relatif karna perspektif itu sendiri bervariasi yg konsekuensinya menghasilkan relatisme dalam menentukan sesat atau tidaknya
salah satu ciri penganut teologi liberal, adalah mengedepankan HUMANISME untuk mengantikan ABSOLUTISME ALKITAB, sehingga memunculkan isu mengenai kesetaraan pendapat, sudut pandang yg beragam dan seterusnya
jika saya ajak @guest x, @moron dst untuk berpijak pada alkitab dan teologi dasar, tentu mereka bisa berkelit bahwa teologi tidak bisa dijadikan kalibrasi kebenaran, dan alkitab bisa ditafsirkan sesuai dengan intensi dari sang penafsir---- analoginya; ngajarin gajah terbang atau ngajarin anak ayam berenang--- wasting time
untuk menghadapi orang2 liberal seperti mereka, bagaimana caranya? mudah gunakan saja pendekatan logika dasar, dan lihat seberapa kedalaman mereka berpikir secara abstraksi
"sesat" itu relatif menimbulkan pemahaman yg ambigu, karna ada tanda ", pada kata sesat, sehingga memiliki pemaknaan simbolis, disinilah letak pangkalnya
saya menyatakan sesat tanpa ada tanda ", artinya pemahaman mendasar tentang kekristenan dari multi denominasi tidak pernah ditemui bahwa SEMUA ORANG MASUK SURGA, pemahaman hypergrace (sekali selamat tetap selamat) saja tidak mengklai semua orang masuk surga
sayangnya @GX dan kawanan liberal di blog ini tidak bisa membedakan yg mana yg SESAT, keliru dan kurang presisi, dan ketika berhadapan secara argumentasi tipe mereka ini selalu HIT & RUN, tidak pernah menuntaskan sama sekali, entah karna kekurangan kapasitas atau memang sengaja untuk sekedar cari sensasi
dampak dari pemahaman liberal tersebut adalah mendegradasikan yg absolut menjadi relatif kemudian meng-absolutkan sesuatu yg relatif, bawha relatisme itu adalah satu2nya hal yg absolut, dan semua yg absolut adalah relatif
jika kekristenan, alkitab, kenyataan Roh Kudus, keberadaan Bapa hanya sebagai sesuatu yg relatif, sia-sialah anda sekalian menjadi kristen, karna jika tidak ada yg absolut semuanya relatif, keberadaan pemikiran dan eksistensi andapun sebenarnya bisa menjadi "maya" adanya, sehingga tidak perlu anda berbuat benar dan kudus, tidak perlu berbuat baik, segala sesuatu adalah relatif,-----isi adalah kosong, kosong adalah isi---
dipersilahkan untuk
@guest x, @moron, @JF, @Purnomo, atau siapapun untuk berdiskusi secara logis dan sistematis di blog ini agar setidaknya hal-hal yg sesat itu bukan semakin di-abu2-kan, harusnya kalian semua mempunyai kerinduan untuk mengusir hal2 yg abu2 menjadi putih terang benderang, bukan malah menyembunyikan gantang dibawah tempat tidur
:)