Membaca beberapa blog di sabda space ini sangat menarik, terutama yang membahas mengenai bahasa roh, yang berlanjut menjadi diskusi dan perdebatan yang panjang lebar...benar-benar menarik.
Supaya jadi tambah ramai, diskusi dan perdebatannya, saya jadi tertarik juga untuk menyajikan satu tulisan mengenai bahasa roh, yang saya kumpulkan dari beberapa sumber, maklum belum begitu ahli dalam menulis, jadi masih dalam taraf memulung, memilah, menganalisa dan merangkum menjadi satu tulisan setelah ditimbang dengan batu timbangan yang benar yaitu Alkitab. Versi ringkas tulisan ini pernah saya sajikan dalam warta jemaat gereja saya (aliran Pentakosta) ketika saya masih tinggal di Margasari Kab. Tegal. Jelas, pasti menuai protes dan kritik dari banyak orang, tetapi Pendeta saya yang sangat bijaksana tetap menghargai tulisan ini. Beliau malah meminta saya menulis lebih banyak lagi, tetapi sayangnya karena tuntutan pekerjaan saya harus pindah kerja ke lain daerah.
Silahkan menilai tulisan yang saya beri judul : Tinjauan Alkitabiah Mengenai Bahasa Roh di bawah ini :
TINJAUAN ALKITABIAH MENGENAI BAHASA ROH
Roh Kudus, adalah kekal. Dia Maha Hadir, tetapi datang ke dalam dunia ini dengan cara istimewa, yang terjadi pada hari Pentakosta. Roh Kudus datang untuk memelihara Gereja sampai waktu kedatangan Kristus yang kedua. Roh Kudus menolong pribadi orang-orang percaya dan menyatakan panggilan bagi orang-orang yang percaya pada Perjanjian Baru.
Sejak awal tahun 1900an, ada penekanan baru mengenai karya Roh Kudus dan karena peranan-Nya yang khusus dalam kehidupan orang-orang percaya, maka sangat baik untuk selalu memperhatikan pribadi dan karya Roh Kudus. Namun demikian, bukannya menekankan pada karya Roh Kudus yang mencakup hal yang sangat luas, banyak gereja-gereja Karismatik, kebangungan rohani, kelompok Karismatik Katolik dan gereja-gereja aliran Pentakosta, terlalu menitikberatkan hanya pada bahasa roh. Ini merupakan cara pandang yang tidak seimbang dan memerlukan penelitian lebih lanjut di bawah terang Alkitab.
Apa Itu Bahasa Roh?
“Berbicara dalam bahasa roh” merupakan terjemahan dari bahasa Yunani “Lalein heterais glossais”. Ini berarti seseorang yang berbicara dengan bahasa yang dia sendiri tidak mengerti. Ini jelas berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh si pembicara, yang melaluinya Allah mengkomunikasikan Injil dan kebenaran-kebenaran ilahi kepada pendengarnya (Kis. 2:4, 1Kor. 12:28). Dalam Kisah Para Rasul, orang-orang mendengar para rasul berbicara dengan bahasa dari tempat asal para pendengar tersebut. Dalam hal ini, jelas bahwa para rasul menggunakan bahasa manusia yang tidak dipahami oleh para rasul, tetapi dimengerti oleh pendengar-pendengar yang berasal dari negeri-negeri lain.
Alkitab menjelaskan bahwa berbicara dalam bahasa roh adalah karunia dari Tuhan yang memiliki dua aspek :
1. Sebagai tanda.
2. Sebagai karunia rohani.
Oleh sebab itu, kita harus meninjau bahasa roh dari dua aspek tersebut di atas.
1. Bahasa Roh Sebagai Tanda
Referensi pertama mengenai bahasa roh, terdapat dalam Yesaya 28:11,12 dimana dinyatakan bahwa bahasa-bahasa asing tersebut sebagai tanda bagi bangsa Yahudi. Kemudian dalam 1Kor. 14:22, Alkitab mengatakan bahwa bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang percaya, tetapi untuk orang yang tidak percaya. Dari dua pernyataan dalam Alkitab ini, kita bisa simpulkan bahwa ketika Allah menggunakan bahasa roh sebagai suatu tanda, itu dimaksudkan sebagai tanda kenabian untuk orang-orang Yahudi yang tidak percaya. Itu adalah tanda penghakiman dan juga panggilan untuk kembali kepada jalan Tuhan.
Pentingnya Tanda :
Bangsa Yahudi adalah umat pilihan Allah, tetapi mereka selalu menyimpang dari kehendak Tuhan sehingga terpisah dari Tuhan. Sebagai konsekuensinya, Allah mengirim mereka dalam perbudakan, tetapi tetap mengasihi mereka. Allah mengirimkan hukuman sekaligus undangan kepada mereka. Tanda dari hal ini adalah umat Allah diperintah oleh bangsa-bangsa yang berbahasa asing (Yesaya 28:11, 12, Ulangan 28:49, Yeremia 5:15). Dengan demikian, secara profetis salah satu tujuan dari bahasa roh adalah tanda bagi bangsa Yahudi bahwa mereka sedang dihakimi oleh Allah dan bahwa mereka harus berbalik kepada Allah.
Kita baca dalam Alkitab bahwa bangsa Yahudi menghendaki tanda (Mat. 24:3, Luk. 23:8, Yoh. 6:30, 1Kor. 1:22). Ini merupakan sifat unik dari umat Yahudi dan Allah menggunakan bahasa-bahasa asing (bahasa roh) sebagai suatu tanda untuk berkomunikasi dengan mereka.
Alkitab menjelaskan bahwa kepada umat Yahudi diberikan tanda lain ketika nubuat nabi Yoel (Yoel 2:28-32) digenapi pada hari Pentakosta (Kis. 2:16-21). Ketika melaksanakan tugas-Nya di dunia, Tuhan Yesus telah memberikan informasi mengenai apa yang akan terjadi pada hari Pentakosta (Mar. 16:17).
Dengan demikian, jelas bahwa bahasa roh adalah tanda profetis yang digunakan Allah sebagai tanda untuk berkomunikasi dengan umat pilihan-Nya. Yesaya mengatakan bahwa ketika Allah mencurahkan Roh Kudus kepada umat-Nya di akhir zaman, dan ketika mereka memberitakan Injil dengan bahasa-bahasa lain selain Yahudi, ini merupakan tanda dan peringatan bagi umat Yahudi yang tidak percaya. Tuhan Yesus juga menjelaskan bahwa tanda ini akan ditunjukkan kepada orang-orang yang tidak percaya, ketika orang-orang percaya berbicara dengan bahasa-bahasa asing yang tidak mereka mengerti. Ketika orang-orang percaya Yahudi menerima Roh Kudus pertama kali dengan cara yang istimewa pada hari Pentakosta, ini merupakan pernyataan profetis bahwa Firman Allah digenapi.
Sejarah:
Kita menerima catatan sejarah mengenai pencurahan Roh Kudus dan karunia bahasa roh di dalam Kisah Para Rasul. Ada tiga kejadian yang tercatat di dalam buku ini mengenai orang-orang yang berbahasa asing. Tiga kejadian ini tercatat dalam :
Ø Peristiwa hari Pentakosta (Kis. 2:1-13)
Ø Peristiwa di rumah Kornelius (Kis. 10:40-43)
Ø Peristiwa yang terjadi di Efesus (Kis. 19:1-7)
Alkitab menjelaskan bahwa dari tiga kejadian ini, karunia bahasa roh adalah tanda bagi umat Yahudi.
- Bahasa Roh Saat Hari Pentakosta
Tuhan Yesus telah berjanji kepada murid-murid-Nya untuk mengirimkan Roh Kudus dengan cara yang istimewa (Yoh. 14:26, 16:7-15, Kis. 1:5, 8), dan janji-Nya ini digenapi pada hari Pentakosta dengan cara yang unik. Peristiwa hari Pentakosta dikatakan unik karena :
Ø Lidah-lidah api tidak pernah terlihat pada peristiwa lain ketika mereka berbahasa roh.
Ø Begitu juga dengan suara angin yang keras, tidak terdengar pada peristiwa lain.
Bahasa roh pada hari Pentakosta membantu orang-orang Yahudi dari negeri-negeri asing (yang berkumpul di Yerusalem) untuk mendengar pernyataan Allah dalam bahasa-bahasa selain Yahudi, yang biasa mereka dengar setiap hari (Kis. 2:11). Ketika Allah Roh Kudus datang kepada para rasul, mereka menyembah dan memuliakan Allah dalam berbagai bahasa karena menyembah Allah merupakan hal yang utama dalam perkumpulan ibadah orang-orang Yahudi (Kel. 15:11, Maz. 26:6, 40:4, 77:12-14, Yes. 25:1).
Ketika orang-orang Yahudi yang tersebar di berbagai negeri non Yahudi mendengar orang-orang Galilea (para rasul) berbicara mengenai kemuliaan Allah dengan bahasa dari negeri tempat asal mereka, tercengang-cenganglah mereka (Kis. 2:12). Di sini, Alkitab menggunakan kata “DIALECTOS” untuk bahasa roh (Kis. 2:6, 8). Kata “dialectos” mewakili bahasa yang benar-benar digunakan oleh sekelompok orang di daerah tertentu. Walaupun bahasa Ibrani merupakan bahasa pertama yang digunakan oleh orang Yahudi, namun orang-orang Yahudi yang tersebar di berbagai negeri telah menggunakan bahasa dari negeri-negeri itu sebagai bahasa pertama mereka. Ketika para rasul menjelaskan pesan Ilahi menggunakan bahasa-bahasa itu, semua orang jelas takjub dan termangu-mangu. Karena hal yang demikian belum pernah terjadi dan karena terdapat kerumunan orang yang sangat banyak, mereka menyangka orang-orang itu sedang mabuk. Selanjutnya Roh Kudus menggerakkan Rasul Petrus untuk bangkit berdiri dan memberikan penjelasan bahwa kejadian tersebut merupakan penggenapan dari nubuat nabi Yoel yang sedang ditunggu-tunggu oleh orang Yahudi.
Rasul Petrus menekankan hal-hal sebagai berikut :
Ø Roh Kudus yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus Kristus (Kis. 1:8), akhirnya datang dengan cara yang istimewa pada hari Pentakosta, dan ini merupakan tanda yang khusus kepada orang-orang Yahudi yang tidak percaya.
Ø Ini merupakan fakta sejarah bahwa Roh Kudus diberikan dengan cara yang istimewa kepada semua orang yang diselamatkan melalui iman kepada Kristus (Kis. 10:43, Rom. 8:23).
Ø Ini merupakan tanda bahwa Baptisan Roh Kudus yang dinubuatkan oleh Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus Kristus, telah digenapi (Mat. 3:11, Kis. 1:5, 8).
Ø Apa yang diucapkan oleh orang-orang ini bukan celotehan yang tak berarti, tetapi benar-benar bahasa yang digunakan di negeri-negeri tempat orang Yahudi terbuang (Kis. 10:40-46).
- Bahasa Roh di Rumah Kornelius
Peristiwa bahasa roh yang kedua, terjadi di rumah Kornelius. Ini juga merupakan kejadian yang unik. Inilah pertama kalinya Injil diberitakan kepada orang non Yahudi setelah Pentakosta. Orang-orang Yahudi yang percaya, perlu memahami bahwa Allah membawa orang-orang non Yahudi ke dalam kelompok orang percaya, yang disebut gereja. Dengan demikian, Allah Roh Kudus memberikan karunia bahasa roh kepada orang-orang non Yahudi ini, dengan maksud khusus untuk memberikan tanda kepada orang Yahudi (Kis. 10:43).
Melalui tanda ini dan penglihatan yang dinyatakan kepada Petrus sebelumnya, menyatakan bahwa baik orang Yahudi maupun non Yahudi yang percaya, disatukan menjadi bagian dalam tubuh Kristus. Dengan demikian, bahasa roh yang diucapkan oleh orang-orang non Yahudi di rumah Kornelius, merupakan tanda bagi orang Yahudi.
Beberapa hal yang harus diperhatikan mengenai bahasa roh yang terjadi di rumah Kornelius :
Ø Setelah Tuhan Yesus naik ke surga, para rasul harus menunggu untuk menerima Roh Kudus. Namun tidak demikian di rumah Kornelius, mereka tidak harus menunggu.
Ø Tidak seperti yang terjadi pada hari Pentakosta, di rumah Kornelius tidak ada suara deru angin dan tidak ada lidah-lidah nyala api.
Ø Tidak seperti yang dilakukan oleh Rasul Petrus dan Yohanes pada orang-orang Samaria (Kis. 8:17), serta yang dilakukan Rasul Paulus pada murid-murid Yohanes Pembaptis (Kis. 19:1–7), tidak ada penumpangan tangan untuk menerima Roh Kudus.
- Bahasa Roh Pada Murid-Murid Yohanes Pembaptis di Efesus :
Di Efesus, terdapat beberapa orang murid Yohanes Pembaptis. Yang terjadi di sini juga unik. Ketika murid-murid Yohanes Pembaptis ini menerima baptisan pertobatan, mereka sama sekali tidak mengetahui mengenai Roh Kudus dan Perjanjian Baru untuk gereja yang dimulai pada hari Pentakosta. Ketika murid-murid ini mendengar mengenai Injil Kristus, mereka segera menerima Kristus sebagai Juru Selamat dan menerima baptisan orang percaya. Selanjutnya, ketika Rasul Paulus menumpangkan tangan ke atas mereka, mereka menerima Baptisan Roh Kudus. Ini untuk menunjukkan bahwa murid-murid Yohanes Pembaptis juga diterima di dalam gereja ketika mereka menerima Kristus sebagai Juru Selamat.
Roh Kudus turun atas orang-orang pada banyak kejadian, namun karunia bahasa roh hanya dicatat dalam tiga kejadian tersebut di atas. Kita dapat sampai pada kesimpulan deduktif dari tiga kejadian yang tercatat dalam Alkitab tersebut :
Ø Mengenai menunggu untuk menerima Roh Kudus: para rasul menunggu di Yerusalem untuk menerima Roh Kudus, karena Tuhan Yesus memerintahkannya (Kis. 1:5-8, 2:1-4). Mereka berbicara dalam berbagai bahasa ketika Roh Kudus turun atas mereka. Roh Kudus tidak datang karena mereka menunggu, tetapi mereka menunggu karena diperintahkan oleh Tuhan, sampai janji-Nya digenapi. Dengan demikian, menunggu bukanlah syarat untuk menerima Roh Kudus. Karena masa menunggu ini tidak terjadi pada dua peristiwa lain mengenai bahasa roh. Dengan demikian, ritual / kebaktian doa sepuluh hari untuk menunggu turunnya Roh Kudus, kurang kuat dasar Alkitabiahnya.
Ø Penumpangan tangan untuk menerima Roh Kudus: saat pertama kali Roh Kudus turun atas orang-orang percaya dengan cara yang istimewa, adalah di hari Pentakosta. Dalam hal ini, tidak ada hubungannya dengan penumpangan tangan. Orang-orang Samaria menerima Roh Kudus setelah penumpangan tangan (Kis. 8:14-18), tetapi tidak ada catatan dalam Alkitab bahwa mereka berbahasa roh. Namun demikian, ada juga kejadian penumpangan kepada murid-murid Yohanes Pembaptis dan mereka menerima karunia bahasa roh (Kis. 19:1-7). Jelas disini, Alkitab tidak menempatkan penumpangan tangan sebagai hal yang utama untuk menerima Roh Kudus, atau untuk menerima karunia bahasa roh, atau untuk menerima Baptisan Roh Kudus. Maka jelaslah bahwa Roh Kudus bergerak dan bekerja dalam berbagai kejadian, dalam berbagai cara, seturut kehendak-Nya sebagai Pribadi Yang Maha Kuasa (1Kor. 12:11).
Evaluasi mengenai Karunia Bahasa Roh Sebagai Suatu Tanda:
Alkitab tidak pernah menekankan mengenai bahasa roh sebagai suatu tanda utama dari Baptisan Roh Kudus atau tanda kepenuhan Roh Kudus. Kecuali tiga kejadian yang tercatat di dalam Kisah Para Rasul, bahasa roh sebagai tanda, tidak dicatat di bagian lain dalam Perjanjian Baru. Karunia bahasa roh juga tidak disebutkan sebagai tanda kepenuhan Roh Kudus. Orang-orang Samaria yang menerima Roh Kudus setelah penumpangan tangan (Kis. 8:16), tidak disebutkan dalam Alkitab bahwa mereka berbicara bahasa roh.
Jelaslah dari catatan dalam Alkitab bahwa bahasa roh tidak diucapkan oleh semua orang yang menerima Roh Kudus. Tiga ribu orang yang bertobat pada hari Pentakosta (Kis. 2:41-47) semua menerima Roh Kudus melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus, tetapi tidak disebutkan bahwa mereka semua berbicara bahasa roh.
Karena dr. Lukas adalah seorang penulis yang sangat teliti, pasti Roh Kudus menggunakan ketelitiannya untuk memberikan catatan yang akurat kepada kita mengenai apa yang terjadi pada hari Pentakosta tersebut. Karena Lukas menulis dengan inspirasi dari Roh Kudus, dapat dipastikan juga bahwa informasi utama mengenai pertobatan 3000 orang tersebut dicatat secara akurat dan tidak ada informasi utama lain yang terlewatkan.
Jika kita menguji sejarah dan teologi mengenai karunia bahasa roh, jelas dari Alkitab diungkapkan bahwa hal ini merupakan karunia dari Tuhan yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang-orang Yahudi yang tidak percaya. Ini merupakan tanda bagi mereka. Jika seorang berbicara dengan bahasa yang belum pernah dipelajari, dan Tuhan menggunakannya sebagai tanda untuk orang-orang Yahudi, maka jelaslah bahwa ini merupakan karunia. Kita lihat bahwa Tuhan menggunakan karunia ini untuk berkomunikasi dengan orang Yahudi pada hari Pentakosta, di rumah Kornelius dan di Efesus. Masing-masing mengandung informasi yang penting bagi orang Yahudi.
Bila kita pelajari bagian-bagian dalam Kisah Para Rasul, jelaslah bahwa penggunaan bahasa roh sebagai tanda, segera berhenti pada zaman gereja mula-mula. Selanjutnya, tidak ada catatan mengenai penggunakan bahasa roh sebagai tanda, selama perkembangan gereja mula-mula.
Bahasa roh muncul kembali beberapa tahun kemudian, di jemaat Korintus. Di situ kita lihat aspek lain mengenai karunia bahasa roh. Bahasa roh bukan lagi sebagai tanda tetapi sebagai karunia rohani yang digunakan secara berulang-ulang oleh penerima karunia ini. Kita perlu mempelajari aspek ini secara lebih detail.
2. Bahasa Roh Sebagai Karunia Rohani
Pengajaran / doktrin mengenai kehidupan berjemaat, dipaparkan secara rinci dalam 21 surat-surat. Allah Roh Kudus memberikannya kepada kita melalui penulis-penulis yang menerima ilham / inspirasi (2Tim. 3:16), untuk mengarahkan kehidupan jemaat orang percaya. Dengan demikian, semua ajaran-ajaran utama mengenai gereja yang diperlukan oleh orang-orang percaya, ada dalam 21 surat-surat tersebut. Dari 21 surat, Tuhan hanya menjelaskan mengenai bahasa roh dalam surat 1 Korintus saja. Karunia bahasa roh tidak dibahas dalam surat-surat lain, walaupun dalam surat-surat tersebut membahas mengenai karunia-karunia rohani secara terperinci.
Dalam surat 1 Korintus, pembahasan mengenai bahasa roh hanya pada pasal 12 sampai 14 saja. Mari kita mempelajari bagian-bagian tersebut.
Pentingnya Bahasa Roh secara Doktrin
Di atas, kita telah mempelajari mengenai latar belakang sejarah mengenai bahasa roh pada zaman gereja mula-mula. Bagian-bagian dalam surat Korintus menjelaskan aspek doktrinal mengenai hal-hal tersebut di bawah ini :
Ø Bahasa roh adalah karunia rohani :
Alkitab jelas mengatakan bahwa bahasa roh yang terjadi di jemaat Korintus adalah karunia rohani (1Kor. 12:10, 28, 30; 13:8; 14:23). Pasal 12 juga mengingatkan orang-orang percaya bahwa semua orang dalam jemaat tidak mendapat karunia yang sama (1Kor. 12:4-11).
Ø Bahasa roh bukan celotehan tak berarti, tetapi bahasa yang mempunyai arti dan harus dinyatakan dengan jelas (1Kor. 14:9-10). Semua bahasa mempunyai kata-kata, kalimat dan tata bahasa yang jelas. Karunia bahasa roh, menggunakan bahasa manusia yang tidak pernah dipelajari sebelumnya oleh orang yang mengucapkannya. Kita perlu catat disini bahwa kata Yunani yang digunakan untuk bahasa roh adalah GLOSSA, yang menunjukkan bahasa sesungguhnya.
Ø Roh Kudus dan Alkitab hanya mengizinkan dua atau paling banyak tiga orang menggunakan bahasa roh dalam pertemuan jemaat (1Kor. 14:27). Mereka harus berbicara satu per satu, tidak bersamaan. Jika banyak orang berbahasa roh secara bersamaan, ini tidak sesuai dengan ajaran Alkitab.
Ø Harus ada orang yang menafsirkannya. Jika tidak ada orang yang bisa menafsirkan, bahasa roh tidak boleh digunakan dalam jemaat (1Kor. 14:28). Ini aturan yang ditetapkan secara ketat dalam Kitab Suci, bahwa hanya satu orang yang boleh berbicara bahasa roh dalam satu waktu, dan harus ada yang mengartikannya (1Kor. 14:27).
Ø Firman Allah tidak mengizinkan perempuan berbicara bahasa roh dalam jemaat dan mereka sangat dilarang untuk menggunakan karunia ini dalam jemaat (1Kor. 14:34). Perempuan yang berbicara bahasa roh dalam jemaat, jelas-jelas bertentangan dengan Kitab Suci.
Ø Bila Alkitab mengatakan bahasa roh akan berhenti (1Kor. 13:8), jelas bahwa bahasa roh bukan karunia yang bersifat kekal untuk jemaat.
Ø Secara mendasar, karunia bahasa roh bukan tanda menerima Roh Kudus, Baptisan Roh atau kepenuhan Roh Kudus. Sebaliknya, karunia rohani ini hanya diberikan kepada orang-orang tertentu untuk tujuan-tujuan yang khusus (Kis. 2:4).
Ø Bahkan ketika karunia rohani ini diberikan kepada orang-orang percaya dalam jemaat, tujuan utamanya adalah orang-orang yang tidak percaya. Kegunaan utamanya bukan untuk menguatkan orang-orang percaya (1Kor. 14:4, 21-22).
Ø Alkitab menjelaskan bahwa karunia bahasa roh harus diuji jika perlu. Karunia ini tidak boleh digunakan secara bersama-sama, karena jika banyak orang berbicara bahasa roh secara bersama-sama, hal ini akan menimbulkan ejekan dan bukan keteguhan rohani (1Kor. 14:23). Ini tata tertib yang diperintahkan Tuhan, bahwa bahasa roh hanya boleh diucapkan oleh satu orang pada satu waktu di dalam jemaat (1Kor. 14:27).
Ø Roh Kudus menempatkan karunia bahasa roh dalam urutan terakhir karunia-karunia rohani (1Kor. 12:28). Dengan kata lain, karunia bahasa roh bukan karunia utama dalam gereja.
Ø Alkitab mengingatkan orang-orang percaya untuk berusaha memperoleh karunia-karunia yang utama (1Kor. 12:31), bukan mengejar karunia bahasa roh.
Karunia bahasa roh merupakan penggenapan nubuatan Allah dalam Perjanjian Lama (1Kor. 14:22). Mereka yang berbahasa roh saat hari Pentakosta berbicara mengenai kemuliaan Allah. Namun demikian, tidak seperti nubuat, bahasa roh tidak digunakan untuk mengkomunikasikan pengajaran atau informasi di dalam gereja. Tujuan utama Surat 1 Korintus, bukan untuk mendorong jemaat menggunakan bahasa roh. Sebaliknya, surat ini ditujukan kepada jemaat yang salah menggunakan karunia bahasa roh. Instruksi-instruksi dalam Surat 1 Korintus adalah untuk mengendalikan dan mengatur penggunaan karunia-karunia rohani dalam jemaat.
Aturan-aturan tersebut sangat diperlukan karena jemaat Korintus sangat mengutamakan bahasa roh, sehingga muncul penyimpangan, perselisihan, hawa nafsu dan kesombongan rohani (1Kor. pasal 1 – 11).
3. Bahasa Roh Bersifat Sementara
Alkitab mengatakan bahwa “bahasa roh akan berhenti” (1Kor. 13:8). Jelas disini bahwa bahasa roh bukan karunia rohani yang bersifat kekal untuk jemaat. Sifat sementara dari bahasa roh ini dapat dipahami melalui uraian di bawah ini :
- Kita tidak melihat karunia bahasa roh diberikan sebelum hari Pentakosta. Banyak orang percaya dan para rasul sebelum hari Pentakosta dan banyak dari antara mereka hidup dengan penuh Roh Kudus namun tidak berbahasa roh (Luk. 1:15, 35; 2:40). Para rasul yang berbicara bahasa roh pada hari Pentakosta tidak berbicara bahasa roh sebelum hari Pentakosta. Rasul Paulus berbicara bahasa roh setelah hari Pentakosta (1Kor. 14:38). Namun demikian, dia tidak memandang karunia ini secara berlebihan (1Kor. 14:19).
- Bahasa roh adalah tanda, terutama bagi orang Yahudi (Yes. 28:11). Dalam 1 Korintus 14:21, 22 kita melihat nubuatan ini digenapi. Alkitab tidak menetapkan untuk mengulangi penggenapan nubuat ini.
4. Hal-Hal Lain Mengenai Bahasa Roh
Hal-hal lain mengenai bahasa roh yang bisa kita lihat dalam Alkitab, dapat dilihat dalam daftar di bawah ini :
- Bahasa roh bukan karunia yang utama dan bukan karunia yang paling utama (1Kor. 12:28-31). Bahasa roh hanya menempati urutan terakhir dalam daftar karunia-karunia rohani. Lebih lanjut, surat-surat selain surat Korintus tidak mencantumkan karunia bahasa roh dalam daftar karunia-karunia rohani. Bahkan disebutpun tidak.
- Alkitab tidak mengatakan bahasa roh sebagai bukti atau tanda keselamatan. Bahasa roh disebutkan sebagai salah satu dari banyak karunia rohani (1Kor. 12:4, 28). Dengan demikian, jika seseorang mengatakan bahwa semua orang dalam jemaat harus berbahasa roh, atau harus mencari karunia bahasa roh, orang tersebut mengajarkan hal yang bertentangan dengan Alkitab dan menambah-nambahkan apa yang diajarkan Alkitab.
- Karena bahasa roh hanya dibahas 3 kali dalam Kisah Para Rasul dan hanya dalam surat 1 Korintus, sementara surat-surat lain tidak membahas hal ini, maka jelas bahwa karunia ini tidak boleh dipandang secara berlebihan, seperti yang dilakukan pada gereja-gereja zaman ini.
- Memiliki karunia bahasa roh, bukan tanda yang penting untuk menilai kerohanian seseorang. Contoh yang paling tepat adalah gereja di Korintus. Karunia bahasa roh digunakan oleh banyak orang yang hidup menuruti hawa nafsu dan tidak rohani. Terlebih lagi, di jemaat Korintus bahasa roh digunakan diluar Roh Kudus dan menyimpang dari batasan-batasan ketertiban rohani. Inilah alasan Rasul Paulus menulis surat 1 Korintus, dan menulis koreksi-koreksinya dalam 1 Korintus pasal 12 sampai 14..
- Alkitab tidak menekankan bahasa roh sebagai tanda utama dari Baptisan Roh Kudus. Alkitab mencatat tiga peristiwa ketika Roh Kudus datang ke atas anak-anak Allah, sehingga mereka berbahasa roh. (Kis. 1, 9, 10). Tetapi Alkitab mencatat juga bahwa ketika Roh Kudus datang atas anak-anak Allah, tidak disertai dengan bahasa roh (Kis. 2:37-47, 8:24-17). Selanjutnya, Alkitab menjelaskan bahwa setiap orang yang menerima Kristus sebagai Juruselamat, dibaptis oleh Roh Kudus (1Kor. 12:13; Rom. 8:23). Dengan demikian, menurut Alkitab walaupun semua orang yang percaya pada Perjanjian Baru telah dibaptis oleh Roh Kudus, hanya sedikit dari orang-orang ini yang berbicara dalam bahasa roh.
5. Bahasa Malaikat?
Beberapa orang mengatakan bahwa bahasa roh serupa celotehan yang tak dimengerti artinya karena ini adalah bahasa malaikat (1Kor. 13:1), dan berbeda dengan bahasa manusia. Mereka mengatakan bahwa tidak ada salahnya mengucapkan kata-kata ini di dalam gereja.
Bahasa roh digunakan dalam gereja mula-mula secara benar, ketika aturan-aturannya dipatuhi. Tidak ada bagian di dalam Alkitab yang menyatakan bahwa bahasa roh adalah celotehan yang tak berarti. Sebaliknya, tercatat di dalam Alkitab, jika para malaikat berbicara, mereka menggunakan bahasa yang jelas dan dimengerti artinya (Luk. 1:11, 28; 24:4). Dengan demikian, jelas bahwa bahasa malaikat bukan celotehan yang tak berarti.
Bahasa roh adalah karunia yang diucapkan dengan bahasa yang jelas oleh seseorang yang belum pernah mempelajari bahasa tersebut. Ucapannya jelas mengungkapkan pesan-pesan Ilahi dan bukan kata-kata celotehan tak berarti yang diulang-ulang.
6. Apakah Bahasa Roh Masih Ada Zaman Ini
Telah kita lihat dalam Alkitab bahwa bahasa roh adalah karunia rohani, yang diberikan sebagai tanda bagi orang Yahudi. “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat” (1Kor. 1:22). Telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama bahwa Allah akan memberikan tanda bahasa-bahasa asing kepada orang Yahudi dan pada hari Pentakosta nubuat ini digenapi (Kis. 2:1-13). Peristiwa bahasa roh yang kedua, terjadi di rumah Kornelius dan ini juga tanda bagi orang Yahudi yang telah menerima Perjanjian Baru, bahwa orang-orang percaya non Yahudi juga disatukan dalam tubuh Kristus (Kis. 10:47).
Hal-hal berikut perlu diperhatikan :
- Bahasa roh akan berhenti (1Kor. 13:8). Alkitab menyatakan secara jelas bahwa karunia nubuat dan pengetahuan diberikan Allah untuk mengomunikasikan pesan-pesan Illahi-Nya kepada manusia. Jelas juga dinyatakan bahwa karunia-karunia ini, termasuk bahasa roh, suatu saat akan berhenti. Pernyataan Illahi, diberikan sebagian demi sebagian kepada manusia melalui para nabi (Ibr. 1:1). Namun demikian, saat ini Firman Allah telah lengkap tersusun dalam Kanon Alkitab, dengan demikan karunia-karunia lain untuk berkomunikasi, termasuk bahasa roh telah berhenti. Karunia-karunia yang mengkomunikasikan pesan-pesan Illahi secara sebagian akan berhenti saat Firman Allah yang lengkap telah sampai kepada manusia (1Kor. 13:9-10). Dengan demikian, tidak ada lagi karunia-karunia yang bersifat sementara, setelah Kitab Wahyu ditulis.
- Apakah bahasa roh yang saat ini ada berasal dari Allah? Gereja-gereja Pentakosta, Karismatik, New Age, kelompok kebangunan rohani, dan lain-lain menitikberatkan pada bahasa roh, penyembuhan dan nubuat. Namun demikian, penting untuk meneliti apakah bahasa roh, nubuat dan mujizat yang terjadi berasal dari Allah. Kita tidak boleh lupa bahwa tukang-tukang sihir pada zaman Musa bisa melakukan mujizat-mujizat seperti yang dilakukan Allah melalui Musa. Dengan demikian, tidak semua kejadian ajaib dan mujizat berasal dari Allah.
Berdasarkan Alkitab, kita bisa sampai pada kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut :
- Banyak orang mengajarkan bahwa bahasa roh adalah bukti keselamatan. Mereka mewajibkan orang-orang dalam gereja untuk berbicara dalam bahasa roh, sebelum mereka menyatakan diri lahir baru. Praktek ini benar-benar bertentangan dengan Alkitab, karena tidak ada bagian dalam Alkitab yang menyatakan bahwa bahasa roh adalah ujian atas keselamatan seseorang.
- Banyak orang yang mengadakan ibadah untuk menunggu kedatangan Roh Kudus. Namun demikian, dalam Alkitab, Tuhan hanya memerintahkan para Rasul untuk menunggu turunnya Roh Kudus. Tidak ada bagian dari 21 surat-surat yang mengatakan bahwa anak-anak Allah menunggu turunnya Roh Kudus. Kenyataannya, Roh Kudus adalah karunia sulung yang diterima oleh setiap orang percaya (Rom. 8:23; 1Kor. 12:3; Efe. 1:13, 14).
- Dalam gereja-gereja yang mengajarkan bahasa roh, kita melihat orang-orang berbahasa roh secara bersama-sama. Namun demikian, Alkitab memerintahkan hanya satu orang saja berbahasa roh pada satu saat (1Kor. 14:27).
- Dalam gereja-gereja ini, orang-orang diharuskan menerima karunia bahasa roh. Namun demikian, Alkitab mengajarkan bahwa bahasa roh adalah karunia rohani yang diberikan kepada orang-orang tertentu, dengan tujuan-tujuan tertentu sesuai kehendak Roh Kudus (1Kor. 12:4-7, 11, 13, 29-31).
- Seringkali bahasa roh yang diucapkan adalah beberapa kata-kata celotehan yang tak berarti, tetapi mempunyai pola yang sama dan diulang-ulang. Sedangkan Alkitab mengajarkan bahwa bahasa roh adalah bahasa yang sesungguhnya yang tidak dipelajari sebelumnya (Kis. 2:1-13; 1Kor. 14:19).
- Kita seringkali temukan bahwa para perempuan berbicara bahasa roh. Ini bertentangan sama sekali dengan perintah Alkitab, bahwa perempuan harus diam dalam pertemuan jemaat (1Kor. 14:34-39).
- Bahasa roh seringkali diucapkan secara bersamaan, tanpa ada yang mengartikannya. Alkitab melarang jemaat untuk mengucapkan bahasa roh bila tidak ada yang mengartikannya (1Kor. 14:28).
- Seringkali ditekankan bahwa bahasa roh adalah karunia rohani yang terbesar dan bahwa semua orang percaya harus menerima karunia bahasa roh. Namun sebaliknya, Alkitab mencatat bahwa bahasa roh sebagai karunia Roh Kudus yang paling akhir dan paling kecil nilainya (1Kor. 12:28). Alkitab ditulis dengan inspirasi oleh Roh Kudus, jadi tidak mungkin Roh Kudus mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan Kitab Suci.
Pada zaman ini banyak praktek-praktek satanic dan okultisme, seperti tertawa roh, menggonggong roh, muntah karena roh, rebah (nggeblak, bhs. jawa) karena roh dan hal-hal ajaib lain, yang mengatasnamakan Roh Kudus. Orang-orang yang percaya Alkitab, hendaknya menolak praktek-praktek satanic ini. “Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera” (1Kor. 14:33). Celakanya, banyak orang percaya yang tertarik dengan praktek-praktek semacam ini, sama seperti serangga yang tertarik nyala lampu petromax dan akhirnya mati terbakar.
7. Mengapa Bahasa Roh Sangat Populer?
Banyak alasan mengapa gerakan bahasa roh ini sangat populer, walaupun dalam banyak aspek tidak Alkitabiah:
- Kelaparan rohani:
Mulai abad 20 ada kelaparan rohani yang sangat besar pada hati manusia dan mereka mencari tanda-tanda spiritual yang kelihatan untuk memuaskannya. Bahasa roh, sebagai sesuatu yang bisa dilihat, mengatasnamakan Alkitab, Roh Kudus dan keselamatan menarik banyak orang, tanpa merenungkan sejenak apakah hal itu benar-benar sesuai dengan Alkitab.
- Tanda kerohanian:
Ketika seseorang di bawah pengaruh bahasa roh dan mengalami pengalaman ekstatik, maka selanjutnya dia dibombardir dengan pengertian bahwa bahasa roh adalah tanda utama kematangan rohani. Karena semua orang ingin matang secara rohani, maka ada tekanan yang kuat untuk mencapainya. Karena suasana emosional dalam gereja, terutama dalam ibadah 10 hari menunggu turunnya Roh Kudus, maka terbuka kesempatan untuk memanipulasi emosi jemaat, kemudian mereka sampai pada tahap ekstatik yang dapat dipengaruhi secara psikologis.
- Penerimaan:
Ketika seseorang telah masuk ke dalam kelompok yang berbahasa roh, maka berbicara dalam bahasa roh menjadi sangat penting untuk diterima dan agar bisa tetap berada dalam kelompok tersebut.
Sebagai penutup, setelah kita menelaah bahasa roh berdasarkan Alkitab, kita sampai pada kesimpulan bahwa yang terjadi pada gerakan bahasa roh saat ini, tampaknya sulit disebut sebagai karya Roh Kudus. Karena kelompok-kelompok ini melakukan hal-hal yang sama sekali bertentangan dengan Alkitab, maka sangat sulit dipercaya bahwa Roh Kudus yang menciptakan pengalaman-pengalaman ekstatik tersebut.
Roh Kudus tidak akan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Alkitab karena Dialah yang menginsirasikan Alkitab pada para penulisnya, karena Dia adalah Allah yang Kekal. Dia tidak memberikan hak kepada manusia untuk menambah atau mengurangi segala hal yang telah tertulis di Alkitab (Why. 22:18,19).
Hanya Alkitab yang menjadi pedoman tertinggi bagi kita orang percaya. Jika ada pengalaman, pengajaran atau hal-hal yang bertentangan dengan Alkitab, kita seharusnya menolak hal-hal tersebut dan tetap berpegang teguh pada Alkitab.