Panti werda itu terletak di tepi kota Semarang, dekat dengan sebuah komplek perumahan besar yang bisa disebut satelit kota. Menjelang pukul 8 pagi berdatangan orang-orang tua ke panti itu. Ada yang diantar oleh anaknya dengan mobil, ada juga yang diboncengkan motor. Ada yang masih bisa berjalan sendiri, ada yang sudah bertongkat, ada juga yang berkursi roda. Mereka bukan penghuni panti, tetapi para siswa Sekolah Lansia yang diselenggarakan oleh Panti Werda. Masuk pagi, pulang sore, lima hari dalam seminggu. Belum setahun sekolah ini sudah memiliki sekitar 30 siswa.
Ketika Ibu Kepsek yang sedari tadi berdiri di pintu gerbang menyalami para siswa akan melangkah ke kelas, sebuah motor berhenti di dekatnya.
“Selamat pagi Tante Tintin,” sapanya sambil menyalami perempuan tua yang turun dari boncengan. “Langsung saja masuk ke kelas ya. Nanti saja setelah makan siang, temui saya di kantor untuk omong-omong santai. Hati-hati, berjalan saja, jangan lari, pelajaran belum mulai kok.”
Pengantarnya turun dari motor dan menyalaminya. Dengan suara setengah berbisik dia bertanya, “Bu, mengapa Mami dipanggil sekolah lagi? Saya belum punya uang untuk melunasi hutang. Dagangan saya masih sepi.”
“Pak Agus, maaf ya kalau saya harus menjalankan peraturan sekolah sehingga terpaksa menghentikan sekolah Mami karena sudah 3 bulan menunda pembayaran. Tetapi saya juga kangen lho sama Mami yang senang bercanda sehingga selama 2 minggu saya mencari jalan bagaimana Mami bisa sekolah lagi. Apalagi saya mendengar Mami di rumah uring-uringan terus. Betul ya?”
“Betul Bu. Mami tidak kerasan di rumah walau ada 2 cucu dan 1 pembantu. Karena sering marah sampai pembantu saya minta keluar. Istri saya sudah setuju untuk meminjam uang teman agar Mami bisa sekolah lagi.”
“Tidak perlu, Pak Agus. Hutang 3 bulan sudah lunas, juga untuk 2 bulan mendatang sudah ada yang melunasi.”
“Siapa yang melunasi, Bu?”
“Biar nanti di rumah Mami yang cerita kepada Pak Agus.”
“Terima kasih, terima kasih, Bu,” katanya sambil menyalami Ibu Kepsek dengan wajah berbinar.
Dalam sebuah aula kecil mereka berkumpul. Ada 6 orang penghuni panti yang ikut. Penghuni panti diperbolehkan ikut apabila stamina tubuhnya mengijinkannya. Acara pembukaan adalah ibadah pagi. Setelah itu senam pagi. Setelah itu . . . . .
Ibu Kepsek berdiri di depan kelas. Katanya, “Hari ini sampai Rabu, kita akan mempunyai 2 guru. Pelajaran pertama saya serahkan kepada Oom Lok dari kuil Siauw Liem Sie.”
Seorang lelaki Tionghoa tua berdiri di depan kelas.
“Lho, babah ini ‘kan yang punya panti pijat refleksi di Jalan Bahagia,” kata seorang ibu sepuh.
“Betul, betul,” jawab Oom Lok. “Owe buka praktek di Jalan Bahagia. Minggu lalu Ibu Kepsek datangi owe cerita Oma Opa di sini kalau disuruh senam tidak semangat. Katanya takut capek. Tidak boleh begitu. Owe umur sudah kepala tujuh tidak takut capek. Apa sebab? Karena owe tahu cara menghilangkan capek. Owe mau ajar Oma Opa memijat dan mengurut kaki.”
Oom Lok duduk kembali dan Ibu Kepsek meneruskan pidatonya. “Untuk pelajaran kedua selama 3 hari akan dipegang oleh Miss Anita yang sehari-hari bekerja sebagai guru Paud.”
Seorang gadis muda belia berdiri di depan kelas.
Mbah Sumarni ikut berdiri dari duduknya dan langsung menyanyi, “Satu ditambah satu sama dengan dua, dua ditambah dua sama dengan empat,” disambut suara riuh tawa yang lain.
Miss Anita ikut tertawa. “Saya tidak mengajar menyanyi karena saya dengar Oma Opa sudah pintar menyanyi. Tetapi saya mengajar ini.”
Lampu aula dimatikan dan para petugas menutup semua tirai jendela sehingga ruangan menjadi gelap. Ibu Kepsek menyalakan lampu senter dan jari-jemari Miss Anita bergerak-gerak lincah di depan senter itu. Di tembok muncul bayangan siluet berbentuk berbagai binatang. Seruan kagum terdengar dari beberapa mulut siswa.
Lampu aula kembali dinyalakan.
“Bagaimana Oma Opa? Mau diajari itu atau diganti dengan mewarnai gambar?” tanya gadis berparas cantik itu.
“Itu saja Miss,” teriak Engkong Kiem Tjwan. “Cucuku kalau malam listrik mati rewel sekali. Nanti bisa aku bikin tenang sama permainan itu.”
“Aku tidak setuju,” teriak Oma Kristin. “Jari-jari tanganku sudah kaku. Bisa patah nanti kalau ditekuk-tekuk.”
“Untuk urusan jari kaku kita panggil Oom Lok,” jawab gadis itu.
Oom Lok kembali berdiri dan sambil hahahihi berkata, “Tenang, tenang. Hari ini pijat kaki. Besok pijat tangan. Lusa owe ajari pijat anak.”
“Hari ini bayangan jari,” Miss Anita meneruskan. “Besok membuat wayang. Lusa belajar mendongeng dengan wayang bayangan.”
“Hari Kamis pelajaran menjahit dengan mesin jahit mini,” Ibu Kepsek kembali berdiri di depan kelas. “Hari Jumat membuat getuk lindri. Nah, Oma Opa, kita mulai pelajaran pertama ya.”
(25.03.2014)