Ketika aku keluar dari gerbang bandara hari sudah rembang senja. Tidak ada taksi biru. Aku melangkah ke arah kanan. Taksi hitam juga tidak ada. Ada bis berhenti di halaman bandara dan aku mendengar teriakan, “Blok Em.” Aku berlari mendekati dan melompat masuk.
Gerimis turun ketika aku keluar dari bis. Tidak deras, tetapi titik airnya membekas di baju putihku. Aku berjalan dengan langkah cepat di Jalan Mahakam. Bawaanku tidak banyak. Tas laptop di punggung dan tas jinjing di tangan. Sesampai di hotel bajuku sudah basah walau tidak kuyup. Kepada gadis yang berdiri di front office aku sebut namaku. Ia melihat monitor komputer di depannya.
“Akan menginap 2 malam, Pak?” tanyanya.
“Ya.” Kemarin dari kantor Medan aku sudah menelepon memesannya.
“Bisa saya pinjam kartu kredit Bapak?”
Dari dompet aku mengeluarkan selembar. Visa, cing!
Sudah biasa hotel akan mencetak lembar blangko transaksi kartu kredit untuk jaminan. Kalau pelanggannya keluar tanpa pamit, bagi hotel berbintang tidak masalah karena tanpa tanda tangan pemilik kartu pihak hotel bisa mengisi jumlah transaksi dan menyerahkan ke bank penerbit untuk kemudian menagihnya. Tanpa sengaja aku pernah mengalaminya. Sampai bandara aku menelepon hotel ini minta maaf karena lupa pamit check-out. “Tidak masalah,” katanya, “kami bisa menyetorkan ke bank tanpa tanda tangan Bapak. Nanti kami fax lembar transaksinya ke kantor Bapak untuk diperiksa. Bila ada yang tidak betul harap segera mengabari kami.”
Gadis front office itu mengembalikan kartu kreditku, “Maaf Pak, kartu ini sudah mencapai limit. Bisa pinjam kartu yang lain?”
Aku mengeluarkan kartu lainnya. Master, bro!
Tetapi lagi-lagi gadis itu mengembalikannya. “Maaf Pak, kartu ini juga sudah mencapai limit. Ada yang lain?”
Bulan itu aku banyak berpergian dan sering mempergunakan kartu kredit untuk membayar tiket pesawat, rekening hotel dan rumah makan. Aku lupa melihat catatan biaya perjalananku sehingga tidak tahu pemakaian 2 kartu kredit itu sudah mencapai batas.
“Saya tidak punya kartu lain, Mbak.”
“Jika demikian, sesuai prosedur yang ditetapkan, bisa dengan tunai untuk 1 malam dulu, Pak.”
Biar yang diberlakukan untukku adalah corporate rate sesuai perjanjian pihak hotel dengan perusahaan tempat aku bekerja, uang di dompetku tak cukup. Karena itu aku menitipkan 2 tasku dan bertanya kepadanya,
“Dekat-dekat sini ada atm BCA, Mbak?”
“Keluar dari hotel, Bapak belok kanan lalu belok kiri. Di jalan itu ada gereja besar dan di seberangnya ada mesin atm BCA.”
Aku berjalan ke arah pintu. Di luar sudah gelap dan masih gerimis. Menginap di hotel melati ternyata lebih mudah daripada di hotel berbintang karena tidak perlu menitipkan uang jaminan. Tetapi aku tidak marah karena tahu mereka menaati prosedur operasionalnya seperti juga diriku yang harus menaati setiap prosedur yang ditetapkan oleh perusahaan. Misalnya, menginap di hotel ini setiap datang ke Jakarta atau hotel lain asal taripnya tidak melampauinya. Setelah mengambil uang aku akan cari makan, lalu beli vcd di pedagang kaki lima, kemudian ke toko musik cari kaset penyanyi jadul, baru kembali ke hotel. Ketika sampai di pintu langkahku terhenti mendengar namaku dipanggil. Aku menoleh. Gadis front office itu bergegas mendatangi.
“Di luar masih hujan, Pak. Besok pagi saja tidak mengapa. Atau lusa waktu check-out,” katanya.
“Tidak akan jadi masalah buat Mbak?” tanyaku sambil mengiring langkahnya kembali ke meja kerjanya.
“Tidak, Pak.”
Aku mengambil tas laptop. Ketika akan mengangkat tas jinjing, dia mendahuluiku. “Maaf, semua bell boy sedang mengantar tamu. Biar saya yang mengantar Bapak,” katanya sambil melambaikan tangan kepada rekan-rekannya di front office.
“Saya sering ke mari. Saya tahu jalannya.” Aku mengulurkan tangan tetapi dia tetap memegang kartu kunci kamarku.
“Mari Pak,” katanya mendahului aku berjalan menuju pintu lift.
“Ini juga sesuai prosedur?”
Dia tersenyum. Di dalam lift kembali aku bertanya,
“Apakah tidak menyalahi prosedur bila saya membayar waktu check-out?”
“Di database komputer saya melihat dalam 1 tahun terakhir ini hampir setiap 3 minggu Bapak menginap di sini dengan track record yang bagus. Untuk pelanggan seperti ini hotel memberikan perlakuan khusus.”
“Termasuk diantar ke kamar oleh gadis cantik sementara tamu yang lain harus menunggu bell boy?”
Gadis tinggi semampai dalam gaun terusan berwarna hitam ini tersenyum lebar sehingga cantik wajahnya berpendar. Karena peristiwa ini mengajarkan sesuatu yang berharga kepadaku, walau sudah belasan tahun berlalu aku tidak pernah melupakan nama yang tertera di dadanya yang tidak rata – ANGELA.
*** Setiap orang tidak sulit diketahui STATUSnya: dokter, pedagang, pendeta, guru dsbnya. Tetapi kita perlu cermat meneliti TRACK RECORD-nya dalam durasi panjang bila ingin aman berinteraksi dengannya karena dari track record inilah kita mengetahui reputasinya dalam status itu. Misalnya: dokter bertangan dingin, dokter berdarah dingin, pendeta proDeo, pendeta proDuit, kristen mingguan, kristen fanatik, penulis profesional, penulis pemula.