Submitted by Tante Paku on

http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/538348_3941701666095_1386559455_3499415_1043153754_n.jpg

Semenjak GALAU di tahun 2009 karena “dilangkahi” sang adik, akhirnya Noni berhasil mendapatkan suami idaman hati yang biasa dipanggil Steven, seorang Pesbuker dari Australia yang keren walau rambut
kepalanya tidak gondrong. Toh dilangkahi atau tidak, di dunia ini tak ada perkawinan yang SEMPURNA BETUL, karena memang tak ada seorangpun yang juga sempurna. Sementara ada Seorang yang sempurna,
namun tidak menikah di dunia ini. Siapakah DIA?

Sepertinya akan menjadi tradisi ke depan, bahwa undangan tertulis sudah tidak efektif lagi untuk mengundang para sahabat bila akan merayakan suatu acara. Demikian juga Noni, ketika Iik mengabarkan di
group BLOSAS (Blogger Sabda Space) bahwa pada hari Sabtu, 12 Mei 2012 pada pukul 11.00 Noni akan menikah di Wonosobo - Jawa Tengah, sambutan pun meriah dan thread tersebut menjadi HIT dan berhasil
mengumpulkan komentar panjang sekali. Intinya untuk mendaftar siapa saja yang bisa datang.

http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/544825_3553991902176_1644048476_2779233_747977772_n.jpg

Dari Jakarta Blosas senior yang datang, siapa lagi kalau bukan Teolog jalanan Hai Hai dan Blosas kawakan juga Happy Lee’s. Dari Solo ada Bu Lurah Joli dan Tante Paku. Hanya itu yang bisa berangkat bersama dalam satu mobil, yang lainnya ternyata pada berhalangan karena ada acara mendadak yang tidak bisa ditinggalkan.

Akhirnya kami berempat berangkat ke Wonosobo lewat jalur Salatiga, sebab akan sarapan pagi di sana ,Soto Semarang, tapi tentu akan mengajak dedengkot Blosas yang bernama Gkmin. Beliau juga akan ikut NJAGONG mengajak istri dan ketiga putrinya itu. Yang lebih penting dari itu, pak Wit (Kami biasa memanggilnya demikian), sangat AHLI dalam mencari JALAN ALTERNATIF yang cukup dekat dengan lokasi. Jalur di Jawa Tengah pak Wit memang berpengalaman bahkan hampir menguasai jalan-jalan pintas yang ada.

Kalau sudah nyopir, pak Wit memang lincah, hingga sering meninggalkan mobil kami, yah maklum saja kalau Hai Hai yang nyopir sambil cerita, tidak memungkinkan untuk ngebut. Namun pak Wit cukup sabar menunggu bila akan berbelok arah, hingga kami tak tersesat. Walau pada akhirnya KEBABLASAN melewati DIENG KLEDUNG PASS di Jl. Raya Wonosobo-Parakan Km 17, dan harus berbalik arah setelah pak Wit menghubungi HP-nya Joli.

*****

http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/581242_3941723946652_1386559455_3499441_1165642468_n.jpg

Setelah masuk Hotel Kledung Pass yang dipakai resepsi, kami pun berganti kostum, mengenakan batik menyiapkan amplop. Dan tiba-tiba muncul penampakan sosok berpakaian hitam you can see………, oh syukurlah, ternyata Iik dengan senyum manisnya menghampiri dan menyalami kami satu persatu.

“Aku sudah datang sejak tadi, berangkat dari rumah jam 5 pagi kok. Tapi kami jalan-jalan dulu sebelum ke sini,” cerita Iik yang berangkat ditemani kakak, sang adik dan Bundanya.

“Pak Purnomo juga ada kok,”

“Lho nggak berangkat barengan?”

“Beliau enggak mau diajak barengan, pilih naik bis!”

“Si tua bangka ini memang rada aneh.” gumam Hai Hai sambil ngakak.

http://krjogja.com/news_image/img/91775

Setelah semuanya siap, kami pun masuk ke pesta resepsi yang diadakan di belakang hotel dengan suasana PRASMANAN yang bebas dan ada hiburan organ tunggal, suara hingar bingar soundnya memang melebihi kapasitas hingga tidak membuat nyaman di telinga dan mengganggu suasana para tamu untuk berbincang-bincang akrab.

Kami satu persatu menyalami pengantin yang berbahagia itu. entah sang pengantin itu tahu atau tidak, bahwa PERKAWINAN itu seperti sebuah buku, yang BAB AWALNYA ditulis dalam bentuk PUISI dan bab-bab selanjutnya merupakan CERITA PROSA.

Ditengah-tengah Gunung
Gunung Sindoro - Sumbing
Menjadi saksi abadi
Pernikahan Steven dan Noni
Kami telah menyaksikan
Kami telah membuktikan
Mereka berdua tak bisa menyembunyikan
Perkawinan yang berselimut kebahagiaan.

Setelah menyalami kedua pengantin, kami juga bersalaman dengan Iik  dan rombongan juga dengan pak Purnomo (Blosas senior juga) yang merupakan pertemuan saya pertama kali dengan beliau, setelah bersalaman dan berkabar, kami pun menikmati berbagai makanan yang digelar di beberapa meja di bawah tenda. Kami mencari makanan khas Wonosobo untuk dicicipi terlebih dahulu, MIE ONGKLOK menjadi menu pertama kami ditemani TEMPE KEMUL yang enak sekali. Selanjutnya
terserah selera masing-masing untuk disantap hingga kami kekenyangan.

*****

http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/526182_3941810548817_1386559455_3499486_1692034396_n.jpg

Tak berapa lama, kami diajak foto bersama sang pengantin. Waow yang motret cukup banyak, entah darimana saja itu? Yang jelas ini moment yang sangat berharga untuk tak dilewatkan begitu saja. Setelah itu kami ngobrol lagi sambil melanjutkan hidangannya.

Ketika Noni meminta sang penyanyi untuk membawakan lagu IWAK PEYEK…………oh jagat dewa bathoro………sang pengantin turun dari panggung dan berjalan menuju di depan organ tunggal untuk BERJOGET.

http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/558713_3946855954949_1386559455_3502976_2135234859_n.jpg

Peristiwa tersebut cukup menghebohkan para tamu dan tentu banyak wartawan dadakan yang mengabadikan peristiwa langka itu. Tawa bahagia pun terlontar dari berbagai penjuru disertai tempik sorak meriah sekali.

Akhirnya acara selesai. Noni menghampiri kami dengan membawa bungkusan yang isinya buat oleh-oleh kami yaitu TEH TAMBI dan OPAK Wonosobo, hmm opaknya cocok sekali buat cemilan di udara yang mulai
berkabut ini.

Rombongan kami belum beranjak dari lokasi pesta, walau sang pengantin sudah pulang ke rumah, dan ketika Iik sekeluarga pamit, kami masih bertahan di situ untuk mendengarkan kisah pak Agus, pendiri dan pemilik Dieng Kledung Pass, yang berkumis dan berjenggot mirip Yesus, cuma ini sudah putih semua. Pak Agus sangat ramah dan asyik sekali mendengarkan kisah hidupnya itu. Kalau tidak diingatkan  anak perempuannya, mbak Eunike, barangkali cerita pak Agus bisa berjam-jam.

Berkat obrolan yang begitu mengasyikkan itu, kami mendapat discount 10% saat menginap di hotelnya malam itu.

*****

http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/s320x320/540518_3451373197638_1070004972_3241096_56786220_n.jpg

Setelah mandi di hotel, kami pun keluar untuk mencari makanan kecil ke Wonosobo Kota, Biar tidak melewati GERBANG TOL : NGACENG YO MAS maka  pak Purnomo menjadi petunjuk jalannya, rupanya beliau ingin bernostalgia dengan makanan khas yang cuma ada di Wonosobo dan hanya satu dua toko yang menjual makanan itu, namanya BUNTIL, bahan bakunya dari daun TALAS dan di isi parutan kelapa, dimasak dengan santan, rasanya memang khas dan dijual dengan terbatas, untung masih kebagian 2 biji doang. Lumayan buat mengobati rindu pak Purnomo itu.

Habis membeli berbagi makanan ringan, kami berangkat untuk MAKAN MALAM di Magelang sambil KOPDAR dengan Blosas yang sudah kita kenal namanya yaitu Mujizat, Ebed Adonai, dan Pinokio. Memang ini makan malam yang cukup jauh sekitar 65 km!

Setengah sembilan malam kami sudah sampai di Magelang, Joli menghubungi pak Muji untuk ketemuan sekalian makan malam. Dan kami bertemu Mujizat di Pom Bensin sesuai petunjuk pak Muji dan menuju lapangan Rindam untuk menikmati wisata kuliner khas Magelang, salah satunya NASI GODOK. Sayang sekali, Joli baru ingat setelah sampai di tujuan, kalau penjualnya itu setiap Sabtu merayakan Sabat, gagal dah untuk menikmati nasi godok langganannya.

http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/562635_3608798511917_1632344113_2811193_238704985_n.jpg

Kami akhirnya meneruskan perjalanan mencari rumah makan, setelah Joli bertanya pada sahabat BBM-annya, sementara pak Muji mencarikan jalannya. Setelah menemukan tempat yang cocok, kami berangkat dan pak Muji di depan sebagai guide. Apes lagi, rumah makan yang menjadi tujuan malah mau tutup karena sudah habis. Apa boleh buat, mobil jalan pelan-pelan sambil mencari lokasi makan yang cocok. Akhirnya nemu juga, OEMAH SATE di Jl. Tentara Pelajar menjadi pilihan.

Dan memang tidak mengecewakan OEMAH SATE Bayeman Magelang itu menyediakan menu khusus yaitu SATE BATIBUL (Bawah tiga bulan), artinya Kambing yang disembelih berusia di bawah tiga bulan, sangat
empuk dan tidak begitu berpengaruh dalam menaikkan tensi. Tentu saja masih ada menu lain di OEMAH SATE itu, selain BATIBUL kami memesan GULAI, Sate Ayam dan Bakso.

Dan Pinokio pun datang bergabung untuk meramaikan acara makan ini, sayang Ebed Adonai tidak bisa hadir karena lagi “SIBUK”.  Mujizat yang merupakan seteru Hai Hai di Sabda Space dalam MENU TEOLOGI ini akhirnya cair setelah pak Muji membuka pembicaraan dengan topik ANJING, entah mau memaki atau memang bertanya beneran, yang jelas kami semua tertawa untuk pertanyaan itu.

Setelah ngomong soal anjing, pak Purnomo duduk mendekati Mujizat untuk membicarakan hal PELAYANAN, sementara Pinokio menimba ilmu kepada Hai Hai soal MENDIDIK ANAK BALITA. Bener-bener MAKAN MALAM yang meriah namun “berisi” walau tampak BERISIK.

http://sphotos.xx.fbcdn.net/hphotos-ash3/p480x480/537763_126415250825655_100003715437223_121406_2090736511_n.jpg

*****

Karena stok SATE BATIBUL di warung itu sudah kami habiskan, dan warung mau tutup, mau tidak mau kami harus beranjak untuk meninggalkan tempat, dan Hai Hai berhasil memberi kesan kepada pemilik OEMAH SATE dengan trik sulap MENYAMBAR DUIT DARI ALAM ROH, dan uang tersebut diberikan gratis pada sang pemilik yang bengong menyaksikan “keajaiban” itu.

KOPDAR dilanjutkan ke pusat Kota Magelang yaitu Alun-alun Kota untuk menikmati WEDANG RONDE. Obrolan berlanjut, Pinokio masih bersemangat mencecar berbagai pertanyaan kepada Hai Hai, pak Muji cuma senyam-senyum di sebelahnya.

“Siapa lawan debat Om Hai Hai yang selama ini dianggap paling berat?” tanya Pinokio.

“Yaaah…. lawan paling berat ya teman-teman sendiri, seperti Vantilian, Samuel Franklyn, Tante Paku, Joli, Purnomo, Mama Nia………ya mereka ini lawan-lawan berat yang sering membuat saya bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk memikirkan jawabannya!” jawab Hai Hai serius.

Setelah warung tenda juga mau tutup, kami pun berpisah dengan dua sahabat BLOSAS dari Magelang ini dan Pinokio meluangkan waktunya buat menunjukkan jalan ke arah Wonosobo yang tepat.

Sampai di Hotel Dieng Kledung Pass, kami pun masuk kamar dan langsung tidur, sebab besok pagi masih ada perjalanan berat yang harus kami tempuh.

(Karena sudah cape ngetiknya, BERSAMBUNG deh)

http://farm6.staticflickr.com/5024/5593958863_1e13d84a82_m.jpg

Illustrasi : Foto koleksi BLOSAS, KR, flickr.com, facebook.com