Submitted by Daniel on

Dalam bukunya The Different Drum: Community Making and Peace, Scott Peck menguraikan pengalamannya mengamati dan memprakarasai pembentukan komunitas. Dia menyimpulkan bahwa setiap komunitas selalu melewat empat tahap, yaitu:

1. Pseudocommunity (komunitas palsu)

Dalam tahap ini setiap orang bersikap ramah satu dengan yang lain. Saling menjaga perasaan. Play safe. Mengabaikan sebanyak mungkin perbedaan dengan bersikap seolah perbedaan itu tidak ada atau tidak relevan. Masing-masing berusaha menampilkan sisi terbaiknya dan menyembunyikan sisi buruknya. Pendeknya, setiap orang mengenakan topeng. Tahap ini harus dilalui oleh semua komunitas, tapi tugas pembangun komunitas adalah untuk memperpendek tahap ini sependek mungkin, dengan menjadi "provokator" agar komunitas siap masuk ke tahap berikutnya, yaitu...

2. Chaos (kekacauan)

Di sini orang mulai merasa aman sehingga sedikit demi sedikit topeng mulai dilepas. Bisa juga orang mulai jenuh mengenakan topeng terus-menerus dan mulai mencoba menjadi diri sendiri. Di tahap ini terjadi kekacauan karena mulai muncul perbedaan, perselisihan, ketidaksetujuan, hingga pertengkaran. Orang mulai menyadari bahwa perbedaan tidak bisa diabaikan begitu saja. Tahap ini terkesan counterproductive - khususnya untuk budaya Asia seperti kita, tapi tahap ini sangat penting dan harus dilalui. Tugas pembangun komunitas di sini adalah menjadi fasilitator kepemimpinan dan pengorganisasian yang seimbang.

3. Emptiness (kekosongan)

Sepintas terlihat seperti kembali ke tahap pertama, karena di sini orang mulai mundur kembali ke "kerang" masing-masing, tapi sebenarnya tidak demikian. Di tahap ini orang mulai bercermin dan mengosongkan diri dari ego yang menghalangi terbentuknya komunitas. Setiap orang belajar mengakui kelemahan, keburukan, dan luka-luka masing-masing. Tahap ini sangat berat, karena setiap orang harus mematikan sebagian dari dirinya sebagai individu, dan kematian ini akan membuka jalan bag kelahiran baru, yaitu sebuah...

4. True community (komunitas sejati)

Setiap orang memiliki empati yang dalam satu dengan yang lain. Ada rasa saling menghargai dalam perbedaan. Kemampuan untuk sungguh-sungguh mendengarkan, bukan hanya apa yang dikatakan, tapi juga yang dirasakan. Dalam tahap ini, diskusi dapat menjadi sangat panas, tapi tidak pernah menjadikan sakit hati atau tawar hati. Motivasi tidak lagi dipertanyakan. Semua orang saling memahami.

Nah, sekarang, sabdaspace sebagai (calon) komunitas sudah sampai di tahap mana ya?

Kesulitannya adalah sabdaspace bukan komunitas yang anggotanya tetap dan statis, tapi terus berubah dan bertambah, sehingga level setiap orang tidak selalu sama. Ada yang masih berada di tahap pertama, seperti misalnya evatio, yang terkaget-kaget melihat perdebatan sengit yang terjadi. Itu karena dia memang belum siap naik ke tahap berikutnya. Tapi ada hai hai yang sudah ngebut dan membayangkan komunitas ini sudah berada di tahap terakhir...

Tapi secara umum saya bisa katakan bahwa sabdaspace sudah melalui tahap pertama. Topeng-topeng sudah terbuka. Kita ingat Garamdunia yang berinkarnasi menjadi Rusdy, juga hai hai dan Josua yang akhirnya memasang foto mereka, diikuti yang lain-lain. Menurut saya, saat ini kita sedang berada di akhir tahap kedua, ketika semua orang mulai membuka dirinya, dan terjadi berbagai benturan yang tentunya tidak enak buat semua pihak. Kalau kita mampu mengatasinya sebagai komunitas, mungkin sebentar lagi kita akan masuk tahap ketiga, dan akan berjaya di tahap terakhir.

Bisakah kita?