Submitted by hai hai on

Di dalam kitab Kejadian ada dua kisah penciptaan. Yang pertama adalah kisah Penciptaan LANGIT dan BUMI oleh Allah sedangkan yang kedua adalah kisah penciptaan BUMI dan LANGIT oleh TUHAN Allah. Dari generasi ke generasi para Teolog berusaha untuk memahami kebenarannya, namun karena belum waktunya maka tak seorang pun yang memahaminya dengan benar.  Kita patut bersyukur kepada TUHAN Allah karena dalam generasi ini Dia berkenan membukakannya. Inilah kisahnya.

Saya percaya, tidak ada orang Kristen yang tidak tahu kisah penciptaan langit dan bumi. Namun, kali ini kita akan memahaminya dengan cara yang benar. Anda harus membaca kisah tersebut di dalam Kejadian 1 & 2 dengan teliti dan hati-hati. Walaupun tanpa membaca kisahnya di dalam Alkitab, anda bisa memahaminya dari tulisan ini, namun itu berarti anda MEMBUANG kesempatan untuk menikmati keasykan yang saya rasakan ketika mempelajari dan memahami kisah penciptaan langkah demi langkah. Oleh karena itu, silahkan membaca kisah tersebut sebelum anda melanjutkan membaca tulisan ini. Untuk membacanya silahkan klik di sini (setelah terbuka, coba klik logo "vertical split" lalu logo "line view" agar anda lebih mudah membacanya).

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Kejadian 1:1


Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Kejadian 1:2

Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi. Kejadian 1:3

Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Kejadian 1:4

Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. Kejadian 1:5

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Kejadian 1:26

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah  diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Kejadian 1:27

Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Kejadian 2:1

 
Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Kejadian 2:2


Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu. Kejadian 2:3

Penciptaan LANGIT dan BUMI dilakukan oleh Allah. Allah menciptakan langit dan bumi dengan BERFIRMAN. Setelah mencipta selama enam hari Allah lalu berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu pada hari ketujuh kemudian memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya. Allah memulai penciptaan-Nya dengan menciptakan terang dan mengakhirinya dengan menciptakan Adam.

BERFIRMAN. Berfirman berarti MENYATAKAN kehendak. Allah berfirman berarti Allah menyatakan kehendak-Nya. Kepada siapakah Allah berfirman? Bila tidak ada siapa-siapa, kenapa Allah berfirman? Siapakah yang MENANGGAPI firman Allah? Silahkan membaca Kejadian 1:26 tersebut di atas dan merenungkannya baik-baik. Ternyata Allah tidak sendirian. Allah berfirman karena Dia tidak sendirian. Allah berfirman karena ada yang MENANGGAPI firman-Nya. Karena ada yang menanggapi-Nya, itu sebabnya Allah berfirman.

Ada dua buah aksara di dalam tulisan Tiongkok kuno yang memiliki arti luar biasa yaitu Qian (dibaca: cian) yang pada zaman yang lebih kuno dilafalkan Gan (dibaca: kan) dan Kun. Qian dan Kun tidak diciptakan karena kedua-Nya adalah ADA yang ada karena diri-Nya ada (ziran). Qian dan Kun mahakuasa karena semuanya adalah mudah bagi Keduanya. Qian dan Kun sepadan dan tidak ada yang sepadan dengan Keduanya. Qian dan Kun menyebabkan perubahan namun Keduanya tidak berubah atau kekal. Qian artinya PEMRAKARSA. Kun artinya PENANGGAP. Kun mewujudkan kehendak Qian tepat seperti yang dikehendaki Qian namun tidak menyangkali kehendak-Nya sendiri. Qian adalah Qian, bukan Kun. Kun adalah Kun, bukan Qian. Ketika menggunakan kata PEMRAKARSA dan PENANGGAP di dalam tulisan ini, saya menggunakannya dengan pengertian Qian  dan Kun.

GELAP tidak diciptakan karena pada mulanya gelap sudah ada. GELAP adalah gelap. Gelap bukan lawan Allah. Gelap tidak HIDUP itu sebabnya gelap tidak berkuasa untuk melakukan kejahatan dan kebaikan. Allah berfirman, "Jadilah Terang!" Lalu terang itu jadi. Siapakah yang menanggapi firman Allah untuk menciptakan gelap?  Tidak ada! Gelap sudah ada pada mulanya. Gelap tidak diciptakan. Siapakah yang menanggapi firman Allah untuk menciptakan terang? Siapa lagi? Tentu saja yang menanggapi-Nya adalah Roh Allah yang melayang-layang di atas permukaan air.  Allah adalah PEMRAKARSA sementara Roh Allah adalah PENANGGAP. TERANG bercahaya di dalam GELAP namun tidak memusnahkan GELAP. Terang menguasai gelap namun gelap tidak menguasai terang, itu sebabnya ketika ada terang, gelap tidak nampak karena terang menguasainya. Terang dan gelap bisa dipisahkan. Terang dan gelap BISA berada bersama-sama namun TIDAK bisa menyatu. Terang adalah terang. Gelap adalah gelap. Ketika Allah berfirman, Roh Allah menanggapi. Setelah ditanggapi Allah lalu menghakimi tanggapan Roh Allah dan menjatuhkan vonis dengan memuji.

Apabila mempelajari ayat-ayat selanjutnya, anda akan menemukan kenyataan bahwa ketika Allah berfirman, BUKAN Roh Allah yang menanggapi firman-Nya. Anda akan menemukan kenyataan yang aneh. Ketika Allah berfirman, Allah lalu menanggapi firman-Nya. Ketika berfirman Allah adalah Pemrakarsa. Ketika menanggapi firman Allah, Allah adalah Penanggap. Apabila Allah menanggapi firman-Nya sendiri, bukankah itu berarti Allah adalah Pemrakarsa juga Penanggap? Apabila Allah menanggapi firman-Nya sendiri, untuk apa Dia berfirman? Mungkinkah ada dua Allah? Yang satu adalah Allah yang berfirman sementara yang lain adalah Allah yang menanggapi firman Allah? Apabila ada dua Allah, kenapa menggunakan nama yang sama? Apakah Allah yang menanggapi firman Allah adalah Roh Allah? Apabila benar, kenapa Roh Allah juga dinamai Allah? Sesungguhnya ada berapa Pencipta? Ada satu? Ada dua? Ada tiga? Atau hanya satu Allah dengan dua nama? Itulah misteri pencipta langit dan bumi. Karena tidak menemukan jawabannya maka kita hanya bisa memahaminya demikian. Menambahkan hikmat manusia ke dalam ajaran Alkitab adalah perbuatan bodoh yang sia-sia. Dari pada mereka-reka lebih baik menjalani hidup dalam ketidaktahuan. Tahu bilang tahu, tidak tahu bilang tidak tidak tahu, itulah tahu. Sampai di sini, baiklah kita memahami bahwa kisah penciptaan langit dan bumi adalah misteri. Misteri dalam misteri. Misteri dalam misteri adalah gerbang ke bait Allah.

Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, -- Kejadian 2:4

belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu; Kejadian 2:5

tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu-- Kejadian 2:6

ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Kejadian 2:7

Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. Kejadian 2:8

Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Kejadian 2:9

TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Kejadian 2:15


Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, Kejadian 2:16

tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." Kejadian 2:17


TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Kejadian 2:18

Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara.   Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. Kejadian 2:19

Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Kejadian 2:21

Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Kejadian 2:22

Penciptaan BUMI dan LANGIT dilakukan oleh TUHAN Allah. Anda dapat membaca kisah lengkapnya di dalam Kejadian 2:4b-25.  Hanya ada empat penciptaan yang tercatat di dalam Kejadian 2:4b-25.  TUHAN Allah bukan Allah. Allah menciptakan dengan BERFIRMAN sementara TUHAN Allah menciptakan dengan MEMBENTUK (Yatsar) Adam dari debu tanah (aphar), MENUMBUHKAN (tsamach) tumbuhan dari tanah (adamah), MEMBENTUK (Yatsar) binatang dari tanah (adamah) dan MEMBANGUN (banah) Hawa dari tulang rusuk (tsela) Adam. Berbeda dengan Allah, TUHAN Allah sama sekali tidak menyatakan bahwa Dia berhenti mencipta. Apakah itu berarti Dia belum berhenti mencipta hingga saat ini?

Di dalam kisah penciptaan langit dan bumi kita mendapati bahwa Allah adalah Pemrakarsa sekaligus penanggap. Di dalam kisah penciptaan bumi dan langit kita mendapati bahwa TUHAN Allah menciptakan untuk menanggapi firman Allah. Kenyataan demikian mengajarkan kepada kita bahwa TUHAN Allah adalah Penanggap firman Allah. TUHAN Allah adalah Allah yang menanggapi firman Allah. TUHAN Allah adalah Roh Allah. Bagaimana cara menyimpulkan bahwa TUHAN Allah adalah Roh Allah? Penanggap bukan pemrakarsa. Pemrakarsa sejati hanya ada satu. Penanggap sejati hanya ada satu. Apa dasar kesimpulan bahwa penanggap hanya satu? Bukankah Allah juga berfirman kepada ikan-ikan dan burung-burung  dan manusia? Mari kita mempelajari kedua ayat yang anda maksudkan.

Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: "Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak." Kejadian 1:22

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Kejadian 1:28

Silahkan membaca kedua ayat tersebut dengan hati-hati lalu bandingkanlah keduanya. Bukankah nampak gamblang sekali bahwa Allah tidak berfirman kepada ikan-ikan dan burung-burung dan tidak mengharapkan tanggapan dari mereka? Namun, setelah memberkati Adam dan Hawa, Allah berfirman kepada mereka dan mengharapkan tanggapan dari keduanya. Itulah perbedaan antara manusia dan binatang. Binatang tidak memiliki kemampuan untuk menanggapi firman Allah namun manusia memiliki kemampuan untuk menanggapi firman Allah.

Apabila TUHAN Allah bukan Roh Allah, itu berarti ada dua Penanggap. Karena ada dua Penanggap, bukankah itu berarti ketika berfirman Allah harus menyatakan dengan gamblang kepada siapa firman-Nya itu ditujukan? Bukankah hal itu yang Dia lakukan ketika berfirman kepada manusia? Karena Allah tidak menyatakannya itu berarti hanya ada satu Penanggap yaitu TUHAN Allah. Itulah dasar untuk menarik kesimpulan bahwa TUHAN Allah adalah Roh Allah.

Mungkinkah TUHAN Allah bukan Roh Allah? Mungkin! Apabila TUHAN Allah bukan Roh Allah, itu berarti yang menanggapi ketika Allah berfirman, "Jadilah Terang." Bukan Roh Allah namun Tuhan Allah. Apabila Roh Allah bukan TUHAN Allah, itu berarti Dia bukan Penanggap. Karena bukan penanggap lalu siapakah Dia?

Kejadian 2:7 mencatat bahwa setelah membentuk Adam dari debu tanah TUHAN Allah lalu menghembuskan Nafas Hidup ke hidung Adam. Nafas Hidup ada di dalam TUHAN Allah itu sebabnya Dia menghembuskan-Nya. Walaupun ada di dalam TUHAN Allah, namun, Nafas Hidup bukan bagian dari TUHAN Allah. Apabila Nafas Hidup adalah bagian dari TUHAN Allah, maka ketika menghembuskannya, Alkitab cukup mencatat, "TUHAN Allah menghembuskan nafas-Nya ke dalam hidung Adam." Akan tetapi Alkitab mencatat, "TUHAN Allah menghembuskan Nafas Hidup ke dalam hidung Adam." Itu berarti Nafas Hidup, walaupun ada di dalam TUHAN Allah, namun bukan bagian dari TUHAN Allah. Nafas Hidup bukan TUHAN Allah.

Karena dihembuskan ke hidung Adam, maka  Nafas Hidup itu pun ada di dalam Adam. Nafas Hidup menjadikan Adam makluk hidup, itu berarti Nafas Hidup memiliki kuasa mencipta. Karena memiliki kuasa mencipta itu berarti Dia adalah Pencipta. Pencipta ada di dalam ciptaan. Walaupun ada di dalam ciptaan namun Nafas Hidup adalah Pencipta. Untuk apa Pencipta ada di dalam ciptaan-Nya? Untuk apa lagi? Tentu saja untuk MENOPANG ciptaan-Nya agar  menepati kodrat penciptaannya.

Allah adalah Pemrakarsa sedangkan TUHAN Allah adalah Penanggap sementara Nafas Hidup adalah PENOPANG. Nafas Hidup ada di dalam TUHAN Allah namun Nafas Hidup bukan TUHAN Allah. Walaupun Nafas Hidup bukan TUHAN Allah namun Dia ada di dalam TUHAN Allah. Nafas Hidup dan TUHAN Allah itu ESA.

TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Kejadian 2:18


Silahkan membaca ayat tersebut di atas dengan hati-hati dan teliti:

TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja." - Di dalam kalimat tersebut, TUHAN Allah adalah Pemrakarsa.

TUHAN Allah lalu menanggapi Firman-Nya dengan berfirman, "Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." - Di dalam kalimat tersebut, TUHAN Allah adalah Penanggap.

Pemrakarsa adalah Allah, bukan TUHAN Allah.

Berfirmanlah Allah: "Jadilah cakrawala." – Di dalam kalimat tersebut Allah adalah Pemrakarsa.

Maka Allah menjadikan cakrawala. – Di dalam kalimat tersebut Allah adalah Penanggap.

Penanggap adalah TUHAN Allah, bukan Allah.

Bagaimana kita memahami fakta tersebut di atas? Bagaiman memahami misteri Allah dan TUHAN Allah. Misteri di dalam Misteri adalah gerbang menuju bait Allah.

Nafas Hidup adalah Pencipta. Nafas Hidup ada di dalam TUHAN Allah. Nafas Hidup Bukan TUHAN Allah. Ketika Nafas Hidup yang ada di dalam TUHAN Allah berkata-kata maka yang kita dengar adalah ucapan TUHAN Allah. TUHAN Allah mengucapkannya namun Nafas Hiduplah yang berkata-kata. Hal itu terjadi karena Nafas Hidup ada di dalam TUHAN Allah. Wow… wow… wow… Kita sudah memecahkan misterinya. Kita sudah melewati gerbangnya. Sekarang kita ada di dalam bait Allah.

TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja." TUHAN Allah yang mengucapkannya namun Allahlah yang berkata-kata. Hal itu terjadi karena Allah ada di dalam TUHAN Allah.

Berfirmanlah Allah: "Jadilah cakrawala." Maka Allah menjadikan cakrawala. Allah yang menanggapi firman Allah namun TUHAN Allahlah yang bekerja. Hal itu terjadi karena TUHAN Allah ada di dalam Allah.

Ada tiga Pencipta tertulis di dalam Kejadian 1:1-2 yaitu: Roh Allah dan Allah serta TUHAN Allah. TUHAN Allah ada di dalam Allah sementara Allah ada di dalam Roh Allah, itu sebabnya tertulis, "Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air." Kita melihat keesaan Ketiganya sebagai Roh Allah.

Ada tiga Pencipta tertulis di dalam Kejadian 1:1-31 yaitu Allah dan TUHAN Allah serta Roh Allah. Roh Allah ada di dalam TUHAN Allah sedangkan TUHAN Allah ada di dalam Allah, itu sebabnya tertulis, Berfirmanlah  Allah: "Jadilah cakrawala." Maka Allah menjadikan cakrawala. Kita melihat keesaan Ketiganya sebagai Allah.

Ada tiga Pencipta tertulis di dalam Kejadian 2:4-25 yaitu TUHAN Allah dan Nafas Hidup serta Allah. Allah ada di dalam Roh Allah. Roh Allah dalah Nafas Hidup. Nafas Hidup ada di dalam TUHAN Allah, itu sebabnya tertulis, TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Kita melihat keesaan Ketiganya sebagai TUHAN Allah.

Ada tiga Pencipta. Allah, TUHAN Allah dan Roh Allah. Allah bukan TUHAN Allah; TUHAN Allah bukan Roh Allah; Roh Allah bukan Allah. Roh Allah ada di dalam TUHAN Allah. TUHAN Allah ada di dalam Allah. Allah ada di dalam Roh Allah. TIGA namun ESA. ESA walaupun TIGA. Itulah Allah Tritunggal. Allah adalah Pemrakarsa, TUHAN Allah adalah Penanggap dan Roh Allah adalah Penopang. Keberadaan masing-masing Allah di dalam Allah yang lain itu seperti gelap di dalam terang. Ketika Allah ibarat Terang, TUHAN Allah dan Roh Allah ibarat Gelap. Anda hanya melihat Allah, namun di dalam-Nya ada TUHAN Allah dan Roh Allah; Ketika TUHAN Allah ibarat Terang, Allah dan Roh Allah ibarat Gelap, Anda hanya melihat TUHAN Allah, namun di dalam-Nya ada Allah dan Roh Allah; Ketika Roh Allah ibarat Terang, Allah dan TUHAN Allah ibarat Gelap, Anda hanya melihat Roh Allah, namun di dalam-Nya ada Allah dan TUHAN Allah. Tidak nampak namun ada.

Pemahaman tentang Allah Tritunggal adalah POKOK dan AKAR ajaran Alkitab. Itu sebabnya tanpa memahami Allah Tritunggal dengan benar, mustahil memahami ajaran Alkitab lainnya dengan benar secara lengkap. Yang kita pelajari di atas adalah ajaran paling kuno di dunia tentang Allah Tritunggal yang diajarkan sendiri oleh Allah Tritunggal kepada manusia. Doktrin Allah Tritunggal bukan ajaran berdasarkan hikmat manusia namun ajaran dari Allah Tritunggal itu sendiri. Apabila anda memahami ajaran paling kuno tersebut di atas maka selanjutnya, ketika membaca Alkitab anda akan menemukan yang selama ini tidak anda lihat yaitu kebenaran Allah Tritunggal. Nama-nama Tuhan yang anda baca akan memberikan pengertian yang selama ini tidak kita pahami.

Kenapa selama ini sulit sekali untuk memahami ajaran Allah Tritunggal? Menurut saya hal itu terjadi karena doktrin Allah Tritunggal diajarkan dengan hikmat manusia. Karena banyak teolog dan pengkotbah yang mengajarkan doktrin Allah Tritunggal walaupun tidak memahaminya dengan benar. Saya pernah melakukannya selama bertahun-tahun, mengajarkan Allah Tritunggal tanpa memahaminya dengan benar. Tuhan ampunilah saya! Terima kasih! Kami memahaminya sekarang!

NB.
Tulisan ini belum sempurna. Tulisan ini hanya ingin menunjukkan langkah-langkah yang ditempuh oleh penulis ketika melakukan pemahaman Alkitab Kejadian 1 dan Kejadian 2. Itu sebabnya tulisan ini disebut versi ALPHA.

Silahkan menemukan kesalahannya!