Aku masuk dan melihatnya menangis di situ. Bangku-bangku yang lain masih kosong, hanya ada kami berdua di dalam kelas, menunggu mata kuliah pertama dimulai.
Dia teman dekatku, tapi ketika melihatnya terluka seperti itu, rasanya kami berada di dua planet berbeda, yang saling berjauhan. Aku tidak tahu, harus bicara atau diam saja. Aku bingung, harus duduk di sampingnya, atau membiarkannya sendirian. She may need some times.. on her own..
Tapi aku mendekatinya. Mengusap punggungnya. Membiarkannya menyadari, aku ada di situ. Namun aku juga ingin tahu, apa yang sudah terjadi. Aku tidak berada di situ hanya karena tidak ingin dia sendirian. Aku juga ada di situ karena aku ingin tahu..
Dan ketika dia berdiri, dan dia berkata, "Aku nggak bisa cerita sekarang..", dan air matanya meleleh, aku baru menyadari seberapa sakit lukanya. Sungguh sakit, dia mesti melewati itu sendirian. Sungguh sakit, nggak ada orang yang cukup dia percayai untuk menjadi tempat dia berbagi. Sungguh sakit, dia nggak bisa bilang ke siapa pun, di mana rasa sakit itu dia rasakan. Dan sungguh bodoh aku, karena membuka mulut ketika yang diperlukan hanya sentuhan..
Saat aku terluka, rasa sakit itu terkadang lebih parah dari nyanyian pilu manapun. Tapi Tuhan tahu, yang aku butuhkan hanya sentuhan kasihNya, tepat di mana luka itu menyayatku. Namun Dia tidak berhenti diam, hingga aku berhenti menangis. Dia mengerti, hanya ketika aku diam, suara lembutNya dapat kurasakan. Dia menyentuhku, tepat di hati, dengan satu kalimat yang senyaman usapan di punggung, ketika aku merasa down. Sebuah janji, bahwa aku tidak pernah sendirian. Tidak akan..
Sungguh sakit, cara situasi membuatku terpuruk. Tapi sungguh beruntung aku.. melewatinya dengan Seseorang di sisiku yang berkata, aku tidak sedang sendirian.
Terimakasih, Tuhan ;-)