Submitted by Vantillian on

John Wesley dalam ajarannya menekankan adanya empat unsur yang saling berkaitan dalam memahami kebenaran Kristen yaitu Alkitab, Tradisi, Akal dan Pengalaman. Tradisi yang dimaksud disini adalah sejarah gereja awal/purba, tulisan bapa-bapa gereja dan tradisi ibadah gereja ( misalnya buku doa). Bagi Wesley, ajaran Bapa gereja merupakan tradisi yang sangat penting. Meskipun mengutamakan Alkitab, tetapi Wesleyan tidak membuang tradisi. Inilah pendekatan Quadilateral dalam teologi Wesley.

Tradisi merupakan salah satu sumber otoritas yang diyakini sebagai kebenaran. Tradisi kadang bahkan menjadi sama dengan mutlaknya kebenaran. Tradisi tidak selalu benar seluruhnya namun juga tidak salah seluruhnya. Tradisi harus selalu diuji oleh otoritas sejati. Dalam hal ini adalah Kebenaran Firman. Bagaimana mungkin menguji tradisi dengan memakai firman sementara tool pengujian itu sendiri dipengaruhi oleh tradisi? Disinilah kita harus berhati-hati meletakkan presuposisi otoritas kebenaran kita. Apakah sumber otoritas kita dapat diuji oleh kebenaran? Bagaimana mungkin menguji sumber otoritas dengan otoritas yang diyakini kita sebagai kebenaran?
 
Tradisi adalah seperangkat model atau paradigma yang berujung pada perumusan suatu dogma sebagai penentu atau aturan bagi kehidupan manusia. Tradisi sangat dipengaruhi oleh zaman. Setiap zaman membentuk tradisi yang akan menjadi pedoman bagi generasi berikutnya. Setiap tradisi yang salah akan tergantikan oleh tradisi selanjutnya. Ada yang mengalami reformasi, ada yang revolusi. Paradigma merupakan suatu pola pemikiran yang disepakati dalam membentuk suatu fondasi untuk menilai dan menuntun. Fondasi ini sangat penting sebagai penanda dan penilai zaman. Tetapi paradigma suatu zaman dapat digugat oleh paradigma yang telah disepakati untuk dibentuk. Semua bidang dalam kehidupan manusia mengalami perubahan dan pembentukan paradigma pemikiran. Dari teologi, sains, budaya, sampai pada gaya hidup.
 
Tradisi merupakan suatu KEHARUSAN yang ada dalam pembentukan budaya manusia. Manusia memerlukan tradisi untuk menjalani hidup. Manusia perlu pedoman dan penopang. Salah satunya adalah tradisi, baik itu berupa pemikiran, karya, atau pengaruh seseorang atau sekelompok orang tertentu. Dengan demikian tradisi menjadi suatu otoritas bagi manusia untuk menentukan pilihannya. Tradisi adalah hal yang penting yang menentukan peradaban manusia. Setiap kebudayaan manusia dapat dipelajari dari tradisi yang membentuknya. Termasuk di dalamnya tradisi keagamaan.
 
Bukan hanya di dalam keagamaan, tradisi ilmiah juga mempunyai paradigma yang harus diikuti. Seorang dokter atau ilmuwan harus memperhatikan dan mempelajari bahkan memegang kuat (yakin) terhadap ajaran leluhur terdahulu. Bagi ilmuwan Biologi, tidak percaya pada tradisi evolusi, merupakan suatu cacat ilmiah. Evolusi adalah paradigma ilmu sains yang menjadi fondasi untuk mengerti semua cabang ilmu Biologi yang lain. Tanpa evolusi, ilmu perilaku hewan tidak akan bisa dipahami dengan benar. Tanpa evolusi, ilmu taksonomi hewan tidak akan bisa disusun dan diajarkan. Evolusi adalah konsep inti penentu peradaban ilmu biologi. Para ilmuwan yang memegang tradisi ini, lupa bahwa tradisi sains adalah justru untuk membuktikan segala hipotesa atau kemungkinan yang dapat diamati/diteliti.
 
Tradisi sains adalah Falsifikasi dan Verifikasi. Dengan demikian maka paradigma evolusi BUKAN paradigma mutlak penentu kerangka ilmu biologi. Meskipun evolusi telah menjadi suatu “presuposisi” bagi sebagian besar ilmuwan, namun tradisi sains menentang presuposisi tersebut. Sains harus bekerja dalam suatu pola membongkar dan membentuk secara terus menerus dalam setiap zaman.
 
Gereja Roma Katolik adalah salah satu gereja yang memegang teguh tradisi kekristenan dalam sistem kepausan. Kita sering memandang tradisi katolik yang akhirnya membuat gereja Katolik menjadi gereja yang menyimpang dari kebenaran. Namun menyalahkan gereja Katolik karena memegang tradisi yang kuat itu sama seperti melihat selumbar di mata Katolik tetapi gajah di pelupuk mata sendiri tidak terlihat. Setiap gereja mempunyai tradisi yang dipegang secara ketat. Bahkan gereja yang mengklaim terlepas dari tradisi yang “membosankan” akan membuat paradigma tradisi sendiri. Setiap denominasi mempunyai rujukan pada ajaran terdahulu dan berpresuposisikan suatu paradigma tertentu.
 
Ketika berdiskusi/berdebat tentang suatu ajaran di denominasi tertentu, kita akan cenderung memutlakkan kebenaran tradisi. Denominasi Methodist akan memakai ajaran Wesley sebagai titik penentu segala diskusi. Denominasi Reformed akan memakai ajaran Calvin sebagai batas penentu kebenaran. Ajaran John Calvin akan dianggap lebih berotoritas dalam gereja Calvinis dibandingkan dengan ajaran John Wesley. Ini adalah suatu kewajaran karena suatu denominasi pasti berakar kuat pada tradisi pengajaran tertentu. Lalu apakah yang akan menjadi penentu kebenaran? Tentu saja adalah kebenaran itu sendiri. Semua tradisi meskipun diakui secara otoritatif, tetapi bukan sumber otoritas TERTINGGI. Dengan demikian, paradigma tradisi teologis TERBUKA untuk mengalami transformasi maupun reformasi. Inilah kesejajaran antara tradisi sains dan teologi.
 
Meskipun terdapat kesejajaran antara sains dan teologi, tetapi tradisi teologis mempunyai ikatan yang lebih kuat. Agama mempunyai suatu KEWIBAWAAN tersendiri yang tidak dimiliki oleh sains. Kewibawaan ini menyangkut suatu relasi kepercayaan tersendiri serta objek wibawa. Meragukan semua sistem keagamaan dan semua kepercayaan akan berakibat pada pemutlakan sistem DIRI. Dalam sains, meragukan semua hasil hipotesa dan teori akan menjadi fondasi untuk menemukan teori yang lebih benar/baik, meskipun anda tidak bisa meragukan segalanya tanpa ada suatu fondasi paradigma/presuposisi anda tertentu. Namun dalam sistem tradisi kekristenan, kewibawaan terletak di dalam tindakan dan karya Allah dalam sejarah. Tindakan dan ucapan Ilahi dalam sejarah inilah yang menjadi penentu dan pembentuk tradisi Kristen sehingga akhirnya menjadi otoritatif bagi generasi selanjutnya.
 
Ulangan 6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
Ulangan 6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
Ulangan 6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,
Ulangan 6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.
 
Dengan demikian, menyatakan bahwa tradisi keagamaan selalu salah dan harus diubah terus menerus adalah suatu bentuk pemahaman yang keliru. Firman Allah sendiri disampaikan melalui sejarah tradisi Israel. Firman Allah sendiri diajarkan dalam suatu pola tradisi turun-temurun. Dengan demikian tradisi Israel merupakan suatu relasi pengalaman Israel dengan wahyu Allah yang hidup. Tradisi ini akhirnya membentuk suatu pola ibadah dan tata acara dalam system masyrakat religius Israel.
 
Sayang sekali, dalam sejarahnya, bangsa Israel akhirnya memutlakan system tradisi mereka sehingga menjadikan mereka menjadi penentu kebenaran. Inilah hal yang ditentang oleh Yesus dalam diri orang farisi dan ahli taurat.
 
Matius
15:1 Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata:
15:2 "Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan."
15:3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?
15:4 Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati.
15:5 Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah,
15:6 orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.
15:7 Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu:
15:8 Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
15:9 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."
 
Ini adalah bahaya laten yang mesti diwaspadai, karena tradisi merupakan suatu pola relasi pengalaman manusia. Ketika berjumpa dengan Sang Mutlak, akan melahirkan suatu refleksi pengalaman tradisi. Bahaya terbesar adalah ketika memahami pengalaman itu sebagai ganti Sang Mutlak. Bagian tradisi yang berubah akhirnya ditentukan menjadi SANG ABADI. Esensi mengapa ada tradisi TERGANTIKAN oleh eksistensi tradisi itu sendiri. Makna mengapa harus muncul tradisi tersebut, akhirnya hilang karena ditutupi oleh pandangan naïf bahwa BENTUK tradisi adalah sumber otoritas tertinggi. Membedakan antara kebenaran sebagai otoritas tertinggi dan tradisi sebagai turunannya merupakan hal yang harus digumulkan sepanjang zaman. Perintah Allah dan perintah manusia harus dengan jelas dibedakan secara hati-hati. Demikian juga perumusan teologis dalam refleksi pembelajaran Alkitab.
 
Meyakini aliran teologis tertentu merupakan suatu keharusan dalam penyusunan fondasi ajaran. Namun jika memutlakan sistem teologis tertentu dan menjadikan sebagai KEBENARAN itu sendiri, berpotensi mencampuradukan kebenaran itu sendiri dengan kebenaran diri. Sistem teologis adalah sistem terbuka. Sistem kebenaran adalah sistem tertutup. Hubungan antara kedua hal ini harus dirumuskan dengan bijaksana. Kebenaran adalah eksklusif. Tetapi tradisi pemikiran tidak pernah menjadi eksklusif mutlak benar terhadap tradisi yang lain. Salah memahami ini akan menjadikan perintah manusia menjadi sumber otoritas tertinggi dibanding perintah Tuhan. Salah memahami ini, akan berujung pada pemutlakan DIRI sehingga menjadi penentu bagi semua yang tidak sepakat dengan paradigmanya. Salah memahami ini, akan terjadi perendahan nilai terhadap tradisi pemikiran yang lain.
 
Bukankah orang farisi dan ahli taurat adalah contoh yang nyata betapa mereka telah mengganggap tradisi DIRI mereka MUTLAK benar? Dan bukankah hal tersebut yang dikecam keras oleh Yesus?